NTP Perikanan Budidaya Masih Rendah, Perlu Harmonisasi Data

Kementerian Kelautan dan Perikanan menilai perlu adanya harmonisasi antara BPS dan lembaga teknis dalam hal pengumpulan data, salah satunya terkait dengan nilai tukar petani perikanan.
Eka Chandra Septarini | 20 Juni 2017 17:40 WIB
Foto udara kawasan tambak ikan bandeng di Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, NTB, Selasa (9/6 - 2015).Antara/Ahmad Subaidi

Bisnis.com, MATARAM -- Kementerian Kelautan dan Perikanan menilai perlu adanya harmonisasi antara BPS dan lembaga teknis dalam hal pengumpulan data, salah satunya terkait dengan nilai tukar petani perikanan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto mengatakan, hasil survey BPS secara umum NTP perikanan dapat dikategorikan bagus. Namun, untuk pertanian budidaya masih berada pada angka di bawah 100.

Hal ini menunjukkan bahwa nilai yang dikeluarkan petani perikanan lebih besar daripada nilai yang dihasilkannya. Dengan kata lain, petani perikanan budidaya masih dikatakan belum sejahtera.

Di Nusa Tenggara Barat Nilai Tukar Petani Perikanan (NTNP) berada pada angka 103,94. Namun, yang berada pada kategori sejahtera hanya nelayan perikanan tangkap dengan nilai NTP sebesar 112,28. Sementara nelayan perikanan budidaya tercatat hanya sebesar 90,47.

"Salah satu faktor yang menyebabkan masih rendahnya nilai NTP nelayan budidaya karena kebanyakan nelayan budidaya hidup di kota yang biaya hidupnya relatif tinggi, sehingga tingkat pengeluaran lebih besar," ujar Slamet di Mataram, Senin (19/6/2017).

Selain itu, menurutnya ada beberapa komoditas dengan nilai ekonomis yang tinggi belum masuk dalam survey yang dilakukan BPS sehingga menyebabkan NTP perikanan budidaya menjadi rendah. Lokasi survey yang belum merata juga bisa menyebabkan minimnya informasi yang diperoleh tentang perikanan budidaya.

"Info kawasan-kawasan budidaya yang belum terpotret oleh BPS masih banyak. Kalau disekitar pelabuhan memang ada, tetapi kan tidak banyak," ujarnya.

Slamet menyatakan pihaknya telah mengupayakan untuk meningkatkan kesejahteraan petani perikanan budidaya, salah satunya dengan program solusi pakan mandiri. Pasalnya, harga pakan merupakan pengeluaran terbesar yang harus dibayarkan oleh petani perikanan budidaya.

Slamet juga menyebut sudah menentukan standar harga pakan yaitu Rp6.000 untuk pakan tenggelam dan Rp7.000 untuk pakan mengapung.

"Banyak kok petani perikanan budidaya yang sejahtera. Hanya harus benar-benar terpotret betul," ujarnya.

Tag : perikanan budidaya
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top