Meraup Untung dari Bisnis Etnik Rinjani

Pesona Rinjani menjadi inspirasi bisnis bagi Sukarno. Pada 2006 silam, pria yang gemar mendaki gunung ini sempat tertohok akibat perkataan salah seorang rekan pendakinya yang berasal dari Pulau Jawa.
Eka Chandra Septarini | 20 Juni 2017 20:07 WIB
Sukarno bersama dengan pernak-pernik khas Rinjani di tokonya - Bisnis.com

Bisnis.com, MATARAM -- Siapa yang tak kenal Gunung Rinjano. Gunung tertinggi di Pulau Lombok ini menjadi salah satu surga bagi para pendaki gunung. Pesona Rinjani menjadi inspirasi bisnis bagi Sukarno. Pada 2006 silam, pria yang gemar mendaki gunung ini sempat tertohok akibat perkataan salah seorang rekan pendakinya yang berasal dari Pulau Jawa.

“Rinjani semegah ini tetapi tidak ada yang menjual oleh-oleh yang khas,” kenang Sukarno. Para pendaki yang naik ke Gunung Rinjani diakuinya pada saat itu tidak bisa membawa buah tangan khas Rinjani usai mendaki. Pasalnya, saat itu memang tidak ada yang menjual oleh-oleh khusus khas Rinjani.

Dengan modal awal sekitar Rp100 ribu, Sukarno lantas mencoba membuat stiker dan gantungan kunci dengan tulisan Rinjani. Usaha tersebut diberi nama PASIR atau Pernak Pernik Asli Rinjani. Penamaan ini bukanlah tanpa alasan.Menurut Sukarno, selain mudah diingat, terdapat filosofi yang kuat pada nama tersebut.

PASIR merupakan salah satu material terkecil yang ada pada gunung. Meski kecil, apabila dikumpulkan, tentu akan menjadi besar. Seperti itulah harapan Sukarno pada usahanya tersebut. Tidak mengambil untung yang besar, namun dikumpulkan sedikit demi sedikit sehingga bisa menjadi besar.

Setiap Sukarno melakukan pendakian, stiker dan gantungan kunci Rinjani selalu dibawa dan ditawarkan kepada para pendaki. Agar lebih etnik dan kearifan lokal Lombok dapat masuk serta menjadi kenang-kenangan tersendiri bagi para pendaki yang membeli oleh-olehnya, Sukarno lantas membuat gantungan kunci yang berasal dari kain tenun. Gantungan kunci tersebut pun khusus dibuat di sentra pembuatan tenun di wilayah Desa Sade, Lombok Tengah.

Kini tidak hanya gantungan kunci dan stiker Rinjani yang menjadi produk PASIR. Beragam motif tas, syal dan topi dari tenun Lombok pun menjadi incaran para pendaki. Selain itu, Aksesoris kecil seperti gelang dan kalung tenun masih menjadi favorit pendaki.

“Sebagai bentuk dukungan terhadap masyarakat lokal yang telah terlibat dalam melestarikan budaya tenun. Sehingga tenunnya saya buat di daerah yang merupakan bagian dari sentra tenun Lombok,” ujar Sukarno.

Memang, yang ditawarkan Sukarno bukanlah barang-barang yang berukuran besar dan mahal. Pasalnya, sebagai pendaki, lelaki berusia 49 tahun ini sadar budget para pendaki tidaklah besar. Selain itu, apabila pernak-pernik yang ditawarkan terlalu besar, akan sulit bagi pendaki untuk membawa pulang, karena biasanya untuk mendaki gunung hanya membawa ransel atau tas gunung saja.

Selain dijual langsung kepada para pendaki pada saat mendaki, produk PASIR juga dijual secara online melalui akun Instagram @rinjaniclothing_pasir dan toko offline yang juga sering dijadikan basecamp bagi para pendaki.

Uniknya, Jam operasi toko offline PASIR tidaklah lama, buka mulai pukul 15.00 dan tutup pukul 19.26 WITA. Jam operasional toko ini disesuaikan dengan angka ketinggian Gunung Rinjani, yakni 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Dalam sehari, Sukarno mampu meraup penghasilan rata-rata Rp1 juta. Bahkan, jika sedang musim pendakian, pria yang juga bekerja sebagai perawat ini bisa mengantongi penghasilan hingga Rp4 juta dari usaha etnik pernak-perniknya ini.

“Soal harga pun bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga menyentuh Rp1 juta. Tergantung jenis barang dan tenunnya. Karena ini kan handmade,” ujar Sukarno.

Tidak hanya pendaki lokal, para pendaki mancanegara pun kesengsem dengan produk PASIR, di antaranya Malaysia, Singapura, Australia, hingga Korea Selatan.

Ke depannya, Sukarno ingin membuat toko di lokasi yang lebih strategis antara Bandara Internasional Lombok, Pelabuhan Lembar, atau Kota Mataram. Namun, untuk saat ini pengembangan sistem penjualan dan menjaga pelanggan menjadi prioritas utama. Sukarno menilai, usaha pernak-pernik etnik ini masih memiliki peluang, karena belum banyak pemain yang menggeluti usaha ini. Dirinya optimis dapat mengembangkan usaha ini menjadi lebih besar lagi.

Tag : produk kreatif, gunung rinjani
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top