Freeport Kembali Produksi Konsentrat

PT Freeport Indonesia kembali memulai produksi konsentrat tembaga pada Selasa (21/3), seiring beroperasinya PT Smelting di Gresik awa Timur.
Gemal AN Panggabean | 21 Maret 2017 17:08 WIB
Lokasi penambangan Grassberg di Papua yang digarap PT Freeport Indonesia - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA— PT Freeport Indonesia kembali memulai produksi konsentrat tembaga pada Selasa (21/3), seiring beroperasinya PT Smelting di Gresik awa Timur.

PTFI akan memanfaatkan waktu selama 6 bulan sesuai yang ditetapkan oleh pemerintah, meski hanya mampu memproduksi konsentrat 40% dari produksi normal.

Riza Pratama, Juru Bicara PTFI mengatakan pihaknya hanya bisa memproduksi 40% konsentrat tembaga, sesaui dengan kemampuan PT Smelting di Gresik. Sebelumnya, produksi konsentrat terpaksa dihentikan semenjak 10 Februari 2017.

“Freeport sudah mulai beroperasi secara bertahap. Kami akan beroperasi sekitar 40% dari normal produksi sesuai dengan kapasitas Smelting di Gresik,” ungkapnya saat menjawab bisnis melalui sambungan telpon, Selasa (21/3).

Namun, Riza enggan membeberkan beberapa jumlah produksi ditahap awal itu. Riza mengatakan, penggerusan bijih tembaga atau operasi mill di Tembagapura yang menghasilkan konsentrat basah sudah dimulai pada 17 Maret silam.

Karena tidak beroperasi, selama satu bulan lebih, tiga gudang penyimpanan berkapasitas masing-masing 40.000—45.000 ton konsentrat tembaga telah penuh. Dalam keadaan normal, sebelum izin ekspor habis, total konsentrat tembaga yang menjadi stok (stockpile) di tiga gudang tersebut hanya sekitar 20.000 ton saja.

Produksi Freeport belum bisa berjalan normal. Pasalnya, 60% produksi untuk diekspor ke luar negeri masih menunggu hasil negosiasi dengan pemerintah. Freeport masih ingin tetap berstatus Kontrak Karya, sedangkan pemerintah masih bersikukuh merubah menjadi Izin Usaha Perambangan Khusus atas dasar untuk meningkatkan pendapatan negara.

Riza menyatakan, apabila kondisi tersebut terus berlanjut, investasi pun akan terus ditekan hingga hampir 50%. Dengan kata lain, belanja barang dalam negeri dan jumlah kontraktor akan terus dikurangi.

Sebagian besar konsentrat tembaga PTFI memang ditujukan untuk pasar luar negeri. Setidaknya ada enam negara yang selama ini mendapat pasokan konsentrat tembaga dari PTFI, yakni Spanyol 2%, Korea Selatan 3%, China 10%, India 26%, Filipina 7%, dan Jepang 15%. Alhasil, konsentrat tembaga yang sudah diproduksi sebelumnya telah menumpuk.

VP Geo Engineering PT F Wahyu Sunyoto mengatakan, pihaknya akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin selama 6 bulan ini, sesuai yang ditetapkan oleh pemerintah. "Langkah arbitrase tidak kita harapkan. Kami akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya," katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Bambang Gatot mengatakan pemerintah dan perusahaan asal Amerika Serikat tersebut masih akan terus melakukan pertemuan setiap minggu.

Namun, menurutnya, langkah arbitrase tetap akan dilakukan jika tidak ada titik temu, meski Freeport berharap polemik ini tidak sampai ke arbitrase. “Freeport harus merubah status menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus. Karena kontribusinya terhadap pendapatan negara masih relatif kecil,” katanya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Freeport, ekspor konsentrat

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top