Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Soal Perdagangan Bebas, Simak Komentar Menkeu Negara Ini

Para pejabat sektor keuangan negara anggota Group of 20 (G20) gagal mencapai kata sepakat untuk mendukung kebijakan perdagangan bebas dan terbuka, setelah mendapat tentangan dari Amerika Serikat (AS)
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 20 Maret 2017  |  15:58 WIB
Menkeu negara anggota G20. - .Reuters
Menkeu negara anggota G20. - .Reuters

Bisnis.com, BERLIN— Para pejabat sektor keuangan negara anggota Group of 20 (G20) gagal mencapai kata sepakat untuk mendukung kebijakan perdagangan bebas dan terbuka, setelah mendapat tentangan dari Amerika Serikat (AS).

Hal tersebut seolah-olah membuat negara anggota melanggar tradisi panjang G20 yang selalu mendukung aktivitas perdagangan bebas. Jerman dalam hal ini dinilai menjadi negara yang mengalami kekalahan paling telak.

Pasalnya, sebagai tuan rumah pertemuan yang digelar dua hari pada 16-17 Maret di Baden-Baden, Jerman gagal membawa misi utamanya untuk disepakati. Seperti diketahui, Negeri Panser itu berambisi membuat seluruh negara anggota menandatangani kesepatakan mendukung perdagangan bebas dalam pertemuan tersebut.

“Hasil pertemuan ini tidak berarti kami [anggota G20] tak bersatu. Kami secara tegas menentang proteksionisme. Hanya saja apa yang didefinisikan dengan proteksionisme itu, rupanya tak sama di kepala masing-masing menteri,” ujar Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble, Minggu (19/3/2017).

Adapun, pertemuan tersebut juga gagal menghasilkan kesepakatan pada sejumlah isu-isu kunci selain perdagangan bebas. Pertemuan ini tercatat menghapus pembicaraan mengenai pendanaan untuk memerangi isu pemanasan global, yang sempat menjadi isu utama pada pertemuan sebelumnya.

Namun demikian, Schaueble menilai pertemuan tesebut berlangsung dalam suasana yang penuh keramahan dan tidak ada aksi konfrontasi berlebihan. Hal itu membuatnya yakin, masih ada kesempatan untuk menghimpun kesepakatan baru di pertemuan selanjutnya pada Juli 2017, terutama dalam menggalang dukungan untuk aktivitas perdagangan bebas.

Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengaku bahwa negaranya tak serta merta menolak perdagangan bebas. Menurutnya, dia hanya ingin aktivitas perdagangan global yang ada saat ini, dikaji ulang agar lebih adil bagi Paman Sam. Dia pun menyatakan bahwa negaranya percaya pada perdagangan bebas.

“Kami adalah salah satu mitra dagang terbesar di dunia. Aktivitas perdagangan memberikan hasil yang baik bagi kami dan negara lain. Karena itu, kami hanya ingin mengkaij sejumlah perjanjian tertentu saja," kata Mnuchin.

Sementara itu, ungkapan yang bernada frustasi muncul dari pejabat lain yang hadir dalam pertemuan itu. Menteri Keuangan Prancis Michele Sapin menyatakan bahwa banyak pejabat perwakilan negara anggota yang meremehkan isu tersebut.

Dia pun merasa bahwa banyak menteri dan gubernur bank sentral yang mewakili negaranya tak mau bernegosiasi secara penuh untuk mendukung perdagangan bebas. Hal itu terjadi lantara mereka tak memiliki wewenang dan mandate khusus terkait isu perdagangan internasional.

“Ini bukan pertemuan terbaik yang pernah kami lakukan. Kami berharap pertemuan selanjutnya pada Juli mendatang di Hamburg akan menghasilkan kesepakatan yang lebih baik,” kata anggota Komisi Eropa Bidang Ekonomi Pierre Moscovici.

Namun. dalam pertemuan tersebut sejumah kesepakatan telah didapat dari negara anggota. Mereka menyepakati beberapa hal seperti menghindari devaluasi mata uang, mendukung finalisasi Basel III dan peringatan pada bahaya dari tingginya volatilitas nilai tukar mata uang. Hal itu tertuang dalam komunike hasil pertemuan tersebut.

Para negara anggota berkomitmen untuk saling berkonsultasi di pasar valuta dan berjanji untuk menghindari serta saling mengingatkan untuk menolak segala bentuk devaluasi mata uang.

Selain itu, komunike tersebut juga memaparkan pentingnya dukungan kebijakan moneter dalam mendukung pertumbuhan ekonomi setiap negara. Dalam hal ini, G20 sepakat kebijakan moneter tak bisa berjalan sendiri, dan perlu dukungan dari sisi fiskal demi menciptakan pertumbuhan ekonomi yang seimbang. (Reuters/Bloomberg)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

g20
Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top