Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Petakan Lahan Pertanian di Seluruh Jawa, BPS Alokasikan Rp3 M

Badan Pusat Statistik (BPS) mengalokasikan anggaran sebesar Rp3 miliar untuk melakukan pemetaan lahan pertanian di seluruh Pulau Jawa agar mendapatkan data lahan pertanian secara akurat dan valid.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 25 Desember 2016  |  03:24 WIB
Petakan Lahan Pertanian di Seluruh Jawa, BPS Alokasikan Rp3 M
Lahan pertanian - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mengalokasikan anggaran sebesar Rp3 miliar untuk melakukan pemetaan lahan pertanian di seluruh Pulau Jawa agar mendapatkan data lahan pertanian secara akurat dan valid.

"Seluruh Jawa, kemungkinan biayanya sekitar Rp3 miliar untuk melakukan pemetaan pertaniannya. Ini kan sesuatu yang baru, jadi perlu hati-hati dikerjakan," kata Kepala BPS Suhariyanto saat ditemui di Kawasan Pasar Baru, Jakarta, Sabtu (24/12/2016).

Menurut dia, pembuatan peta tersebut akan dibuat berupa grid-grid atau garis koordinat yang akan digunakan untuk membantu menentukan letak dari setiap lahan pertanian yang akan dipetakan.

"Karena peta itu harus dibikin grid-gridnya untuk bisa mulai digunakan. Khususnya pada 2017, kita akan lakukan pemetaan terhadap Pulau Jawa dengan metodologi yang bisa dipertanggungjawabkan. Karena karakteristik lahan pertanian kita sangat unik dan kecil-kecil," terang Kecuk, panggilan akrab Suhariyanto.

Saat ini, kata dia, pemetaan lahan pertanian telah dilakukan sejak tahun 2015 lalu pada Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Garut. Lalu pada 2017 akan dipetakan lahan pertanian seluruh Pulau Jawa dan pada 2018 pemetaan dilakukan pada seluruh lahan pertanian di Indonesia.

"Tentunya pemetaan dilakukan dengan pendekatan yang sama, seperti yang dilakukan pada dua kabupaten tersebut di atas dan pada Pulau Jawa. Dengan demikian, proses monitoring dan evaluasinya bisa dilakukan secara optimal," jelas Kecuk.

Metode itu sudah dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak tahun 2008 dan dikembangkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2015.

LIPI disebutnya telah mendapatkan penghargaaan sebagai salah satu inovator prospektif terbaik dengan metode tersebut. "Secara teoritikal, hal itu sangat bagus, tetapi pelaksanaan di lapangan juga membutuhkan waktu dan biaya yang besar," kata Kecuk. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bps lahan pertanian

Sumber : Antara

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top