Kemenkop Target Rilis Lima Kluster Pertanian Awal 2017

Kementerian Koperasi dan UKM menargetkan prototipe kluster pertanian dapat berjalan pada awal 2017. Kluster pertanian tersebut direncanakan sebagai bentuk dukungan terhadap ketahanan pangan nasional.
Thomas Mola | 21 Desember 2016 20:50 WIB
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman (tengah) bersama menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga (kiri) dan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel (dua kiri) berbincang dengan pedagang beras saat inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor, Jabar, Rabu (20/5). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Koperasi dan UKM menargetkan prototipe kluster pertanian dapat berjalan pada awal 2017. Kluster pertanian tersebut direncanakan sebagai bentuk dukungan terhadap ketahanan pangan nasional.

Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga mengatakan Kementerian Koperasi dan UKM tengah menyiapkan prototipe kluster pertanian di lima lokasi untuk mengembangkan sembilan komoditas terutama padi.

"Untuk tahap awal kami siapkan lima prototype di wilayah Sukabumi, Banyumas, Demak, Jawa Timur, dan Lampung. Masing-masing wilayah itu menyiapkan minimal 1000 ha lahan pertanian untuk sembilan komoditas, terutama padi. Tahun 2017 saya harap program awal kluster pertanian ini bisa segera berjalan," ujarnya dalam keterengan resmi, Rabu (21/12/2016).

Puspayoga menjelaskan, program kluster pertanian ini menggunakan dana dari Pertamina melalui dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Masing-masing wilayah tadi, per 1.000 ha akan mendapatkan dana Rp13,4 miliar, yang dipergunakan untuk membeli bibit, pupuk, dan pasca panen.

"Bahkan, masing-masing petani akan mendapatkan ongkos produksi sebesar Rp2,2 juta perbulan. Dan setiap panen, petani juga akan mendapatkan Rp11 juta per ha. Bayangkan saja, bila per 1000 ha digarap oleh 2.400 petani, maka ini merupakan program Padat Karya," tambahnya.

Dengan program padat karya seperti itu, Puspayoga berpendapat Indonesia bisa lepas dari belitan impor pangan. Selanjutnya, tingkat kehidupan para petani pun akan terangkat, karena tak lagi berurusan dengan rentenir.

"Bandingkan saja, kita akan membeli gabah panen seharga Rp4.500 tanpa potongan apa-apa, sementara kalau dijual ke Bulog dihargai sebesar Rp3.700 ditambah potongan-potongan. Petani bisa mendapatkan harga bagus karena memang dirancang untuk efisien dan memiliki nilai tambah sejak masa tanam hingga masa panen. Pasarnya sudah ada, juga teknologinya," tandasnya.

Tag : kementerian koperasi dan ukm
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top