BPOM-Kementan Kerjasama Dongkrak Daya Saing Produk Peternakan

Kementerian Pertanian dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan bekerjasama untuk mendongkrak daya saing produk peternakan unggas Indonesia. Dengan kerjasama ini, BPPOM akan mendampingi seluruh proses yang dibutuhkan untuk dapat meningkatkan kualitas dan mutu produk ternak Indonesia.
Dara Aziliya | 21 Desember 2016 00:30 WIB
Peternakan unggas - disnak.jabarprov.go.id

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Pertanian dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan bekerjasama untuk mendongkrak daya saing produk peternakan unggas Indonesia.

Dengan kerjasama ini, BPPOM akan mendampingi seluruh proses yang dibutuhkan untuk dapat meningkatkan kualitas dan mutu produk ternak Indonesia.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) I Ketut Diarmita menyampaikan selama ini Indonesia terkendala dalam melakukan penetrasi ke pasar-pasar ekspor potensial. Padahal, Indonesia terlibat dalam sejumlah skema perdagangan bebas.

“Dengan adanya MEA [Masyarakat Ekonomi Asean], kita dituntut meningkatkan kualitas pangan dan produk sehingga daya saing dan akses pasar melebar. Saya sebagai Dirjen tidak ingin kita kesannya terlalu banyak impor,” jelas Ketut dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (20/12).

Ketut mengatakan dengan adanya MEA, Indonesia menjadi pasar besar namun produk-produk peternakan Indonesia sulit untuk menembus pasar ekspor.

Dia mencontohkan saat proses negosiasi dengan Jepang, Negeri Sakura menawarkan untuk mengekspor daging sapi wagyu ke Indonesia dan Indonesia dapat mengekspor produk unggas ke negara itu. Kendati demikian, ekspor produk unggas tidak kunjung terealisasi.

“Dengan kerjasama ini, kita memperkecil tingkat risiko produk sehingga kita tidak kesulitan dalam memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditetapkan negara lain. Kualitas produk kita perlu ditingkatkan,” ujar Ketut.

Sementara itu, Deputi III Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM Suratmono menyampaikan lembaganya telah mumpuni dalam mendampingi pelaku usaha mulai skala kecil untuk dapat memperoleh pengakuan mutu dan kualitas.

Dia menjelaskan ada hal-hal kecil namun krusial yang terkadang belum disadari oleh produsen, seperti proses labeling. Dia menyebut 14% produk Indonesia yang sebelumnya direncanakan diekspor ke Amerika Serikat, ditolak karena labelnya tidak layak.

“Banyak aturan yang harus diperhatikan, seperti label itu yang memang kelihatannya sepele tapi dampaknya besar. Lalu terkait penggunaan bahan pangan [sebagai bahan baku] itu ada standarnya,” jelas Suratmono.

Dia mengatakan BPOM telah mendampingi ribuan pelaku usaha skala-kecil menengah untuk dapat meningkatkan kualitas dan mutu produk. Dengan kerjasama ini, dia berharap ekspor produk hewan dapat terakselerasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bpom, unggas

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top