Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Hanya 17% Generasi Millenial Mampu Beli Rumah di Jakarta

Pelan tetapi pasti, harga hunian di Jakarta akan kian tidak terjangkau lagi oleh daya beli kaum milenial, atau Generasi Y kelahiran tahun 1981 hingga 1994. Saat ini, hanya 17% dari kaum milenial yang mampu membeli rumah tapak sekunder seharga Rp300 juta di Jakarta.nn
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 16 Desember 2016  |  18:21 WIB
Hanya 17% Generasi Millenial Mampu Beli Rumah di Jakarta
Salah satu perumahan di Jakarta Garden City - Ilustrasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pelan tetapi pasti, harga hunian di Jakarta akan kian tidak terjangkau lagi oleh daya beli kaum milenial, atau Generasi Y kelahiran tahun 1981 hingga 1994. Saat ini, hanya 17% dari kaum milenial yang mampu membeli rumah tapak sekunder seharga Rp300 juta di Jakarta.

Demikian hasil riset dan analisis yang dilakukan bersama antara portal properti Rumah123.com dan portal karir pertama Indonesia yakni Karir.com.

Riset tersebut dilakukan terhadap 8.510 responden dari generasi milenial yang mengakses situs Karir.com yang berdiam di Jakarta saat ini. Riset tersebut menemukan, rata-rata gaji pekerja Jakarta saat ini adalah Rp8,9 juta, sementara gaji dari kalangan generasi milenial Jakarta berkisar pada Rp6,1 juta.

Padahal, menurut Rumah123.com, seorang pekerja membutuhkan gaji minimal Rp7,5 juta untuk dapat sebuah rumah seharga Rp300 juta saat ini. Hal ini mengandaikan pembelian secara kredit dengan uang muka 30%, bunga 10% per tahun, dan tenor 15 tahun.

Dengan penghasilan Rp7,5 juta, seorang pekerja masih memiliki kemampuan mencicil maksimal sekitar Rp2,25 juta atau 30% dari gajinya seturut ketentuan perbankan. Nyatanya, riset Karir.com menunjukkan hanya 17% dari generasi milenial yang memiliki gaji di atas Rp7,5 juta.

Country General Manager Rumah123.com Ignatius Untung mengatakan, bila diasumsikan setiap tahun kenaikan gaji mencapai 10%, sementara harga properti naik 20%, pada 2021 nanti sudah tidak ada generasi milenial yang dapat membeli rumah yang saat ini masih dipasarkan dengan harga Rp300 juta di Jakarta.

Bila diandaikan mereka menikah, dengan gabungan penghasilan suami-istri, waktunya sedikit bergeser hingga 2022. Setelahnya, tidak akan ada lagi generasi milenial yang bisa beli rumah. Akan tetapi, jika patokan harga yang diukur saat ini lebih tinggi dari Rp300 juta, akan lebih pendek lagi waktunya.

Oleh karena itu, membeli properti sedini mungkin adalah sebuah keharusan saat ini, bagaimana pun caranya.

“Tahun 2016 hingga awal 2017 adalah saat yang tepat untuk membeli rumah, karena kenaikannya masih lambat. Setelah itu, kelihatannya 2017 akan ngebut. Dari data historis, kami melihat bukan hanya 20% peningkatan harga pertahun, tetapi bisa sampai 50% di beberapa titik. Jadi, realitanya bisa lebih awal lagi waktunya generasi milenial ini tidak bisa lagi beli rumah,” katanya.

Riset ini memang khusus difokuskan pada pencarian rumah di Jakarta. Bila fariabelnya diperluas mencakup apartemen Jakarta atau properti di kota penyangga Jakarta, kesimpulan yang diperoleh boleh jadi akan berbeda.

Namun, hasil riset ini cukup representatif untuk menilai kondisi pasar properti Jakarta, khususnya prospek penjualan bagi kalangan pengguna akhir atau end user yang sebagian besar adalah dari generasi milenial.

Generasi milenial saat ini terpantau aktif mencari properti, terbukti dari basis data Rumah123.com yang menunjukkan mayoritas pengunjung situs tersebut adalah generasi milenial, berkisar 50% dari total pengakses.

CEO Karir.com Dino Martin mengatakan, tantangan untuk memiliki hunian akan kian berat untuk generasi milenial masa kini. Bila tanpa upaya ekstra, sulit untuk mengharapkan 83% generasi milenial yang berpenghasilan di bawah Rp7,5 juta akan mampu memiliki rumah di Jakarta hingga kapanpun.

Lagi pula, rumah dengan harga Rp300 juta di Jakarta saat ini kemungkinan hanya tersisa sekitar 1% saja dan berlokasi di pinggiran Jakarta, menurut data pemasangan iklan di Rumah123.com.

Oleh karena itu, tutur Dino, para pekerja dari generasi milenial perlu memikirkan apakah profesi yang digeluti saat ini menawarkan jenjang karir yang menjanjikan dan merupakan bagian dari industri yang akan terus berkelanjutan atau tidak.

Dino mengatakan, tantangan generasi saat ini adalah genjarnya promosi gaya hidup yang cenderung boros untuk hal-hal konsumtif. Semakin banyak produk ritel dari fesyen, makanan dan minuman yang membanjiri pasar kian mengesampingkan promosi pentingnya berhemat dan menabung.

Akibatnya, generasi milinial pun cenderung memiliki kesadaran finansial dan perencanaan keuangan yang rendah.

Selain itu, alih-alih memikirkan investasi jangka panjang melalui pembelian rumah, kebanyakan generasi milenial lebih berminat menghabiskan tabungannya untuk bepergian, berwisata atau bersenang-senang.

CMO Karir.com Rizka Septiadi mengatakan, bila karir yang digeluti saat ini tidak menjanjikan jenjang karir yang menjanjikan dan bukan merupakan industri yang cukup berkelanjutan dan prospektif, kalangan pekerja milenial perlu mempertimbangkan untuk mencari alternatif karir yang lain.

Selain mencari pekerjaan di industri lain yang lebih menarik, pekerja dapat mempertimbangkan untuk bekerja di perusahaan yang memberikan fasilitas atau tunjangan untuk mencicil rumah. Atau, bagi generasi milenial yang hobi bepergian atau berwisata, lebih baik memilih karir di bidang wisata sehingga hobi tersebut akan dibiayai oleh perusahaan.

“Solusi lainnya, mau tidak mau harus segera menabung, kurangi pesta dan aktivitas konsumtif. Atau, segeralah menikah agar bisa join income untuk membeli rumah sedini mungkin,” katanya.

Karir.com mencatat, saat ini 10 industri dengan gaji rata-rata tertinggi yakni minyak dan gas bumi Rp12,1 juta/bulan, pertambangan dan mineral Rp11,4 juta/bulan, kimia Rp9,2 juta/bulan, penerbangan Rp9 juta/bulan, hukum Rp8,5 juta/bulan, properti Rp7,9 juta/bulan, produk konsumen Rp7,7 juta/bulan, manufaktur Rp7,5 juta/bulan, telekomunikasi Rp6,9 juta/bulan, dan konsultan Rp6,7 juta/bulan.

Semakin lama menunda membeli properti, akan semakin jauh lokasi properti yang nantinya akan mampu dibeli. Akibatnya, biaya dan waktu yang terbuang untuk transportasi pun akan kian tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Generasi Y
Editor : Martin Sihombing
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top