Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Gas Turun, Industri Tak Boleh Manja

Penurunan harga gas bagi industri pupuk, petrokimia dan baja diharapkan tak menyurutkan komitmen ketiga sektor tersebut dalam melakukan kegiatan yang lebih efisien.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 29 November 2016  |  23:45 WIB
Ilustrasi - Antara
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA--Penurunan harga gas bagi industri pupuk, petrokimia dan baja diharapkan tak menyurutkan komitmen ketiga sektor tersebut dalam melakukan kegiatan yang lebih efisien.

Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam mengharapkan dengan penurunan harga gas bagi industri tertentu, industri tetap melakukan efisiensi guna menaikkan daya saing.

Pasalnya, bila efisiensi bisa dilakukan penggunaan energi baik sebagai bahan baku maupun bahan bakar bisa menurun sebesar 30%. Sebagai contoh, Khayam menjelaskan kebutuhan gas bagi industri pupuk.

Saat ini, untuk memproduksi satu ton pupuk, dibutuhkan gas bervolume 32 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd). Sementara, bila efisiensi dilakukan, penggunaan gasnya bisa ditekan sebesar 30% yaitu menjadi 24 MMscfd untuk memproduksi tiap ton pupuk melalui revitalisasi teknologi produksi.

Mengacu pada data Kementerian Perindustrian, kebutuhan gas bagi 10 industri sebesar 2.230 MMscfd dengan kontribusi terbesar yakni pupuk sebanyak 791 MMscfd, petrokimia 468 MMscfd serta pulp dan kertas sebesar 302 MMscfd.

"Dengan harga gas turun, seharusnya tetap industri bisa melakukan efisiensi agar tidak menjadi industri yang manja," ujarnya, Selasa (29/11/2016).

Adapun, penurunan harga dilakukan secara bertahap karena membutuhkan upaya efisiensi dari kegiatan usaha hulu gas, di hilir juga di tingkat industri pengguna gas. Beberapa cara seperti menghilangkan trader bertingkat, menambah umur pakai pipa gas, menggunakan pipa open access dan mendorong industri melakukan revitalisasi pabrik diharapkan mampu membuat harga lebih rendah.

"Jadi gini, penurunannya itu dua kali," tutur Khayam.

Untuk menjamin kepastian, katanya, pemerintah juga akan menetapkan harga batas atas dan batas bawah. Tujuannya, agar industri tak menanggung harga yang terlalu tinggi saat harga minyak dan harga produk naik.

Khusus industri pupuk, dia menyebut, penurunan harga gas dilakukan dengan penyesuaian penyaluran subsidi pupuk. Sebagai gambaran, alokasi penyaluran subsidi pupuk.

Sebagai gambaran, pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016 ditetapkan Rp30,1 triliun untuk subsidi pupuk.Namun, belum diketahui apakah seluruh alokasi subsidi pupuk akan digunakan untuk mengompensasi harga gas khusus industri pupuk. Pastinya, ujar Khayam, PNBP migas tak dikorbankan untuk mengurangi harga gas yang digunakan industri pupuk. Hal itu, katanya, sesuai dengan arahan Kementerian Keuangan.

"Khusus (industri) pupuk, karena ini terkait subsidi jadi tidak ada PNBP (migas) yang hilang jadi sesuai dengan Kemenkeu (Kementerian Keuangan)."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gas industri
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top