Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

YLKI: Perlawanan Hukum Lion Air ke Pemerintah Bisa Picu Boikot Konsumen

Yayasan Lembaga Konsumen Indonsia menilai sanksi yang diberikan Kementerian Perhubungan kepada maskapai penerbangan Lion Air terlalu ringan.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 20 Mei 2016  |  12:17 WIB
Maskapai Lion Air - Bisnis
Maskapai Lion Air - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Yayasan Lembaga Konsumen Indonsia menilai sanksi yang diberikan Kementerian Perhubungan kepada maskapai penerbangan Lion Air  terlalu ringan.

“Kemenhub hanya [memberikan sanksi] bersifat teknis dan kasuistik,” kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, dalam keterangan resminya, Jumat (20/5/2016).

Tulus mengatakan seharusnya sanksi itu berdimensi akumulatif, karena terbukti sudah banyak pelanggaran yang dilakukan Lion Air dalam beberapa tahun terakhir. Sanksi yang baru diberikan Kemenhub, kata dia, seharusnya menjadi momen bagi Lion Air untuk memperbaiki performa dan meningkatkan pelayanan konsumen.

“Bukan malah melakukan perlawanan hukum [kepada Kementerian Perhubungan] yang menjadi kampanye negatif bagi konsumen. Sikap Lion seperti itu justru menjadi pemicu bagi konsumen untuk memboikot Lion,” katanya.

Kementerian Perhubungan membekukan sementara izin pengajuan rute baru selama enam bulan terhitung mulai 18 Mei 2016. Penundaan itu diberikan sebagai sanksi karena keterlambatan penerbangan berulang kali, dan pemogokan pilot Lion Air beberapa waktu lalu. 

Selain itu, izin kegiatan pelayanan jasa penumpang dan bagasi Lion Group di Bandara Soekarno-Hatta juga dibekukan selama lima hari. Pembekuan itu dilakukan terkait adanya insiden penumpang Lion Air dengan nomor penerbangan JT-161 dari Singapura ke Jakarta, yang lolos dari pengecekan imigrasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lion air

Sumber : tempo.co

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top