Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PROSPEK GLOBAL: Investor Disarankan Lebih Berhati-hati

Para investor sebaiknya menempuh langkah yang lebih berhati-hati menyusul perkembangan perekonomian dunia yang dinilai mendekati mendekati situasi krisis ekonomi pada 2008.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 08 Januari 2016  |  13:20 WIB
PROSPEK GLOBAL: Investor Disarankan Lebih Berhati-hati

Bisniscom, COLOMBO — Para investor sebaiknya menempuh langkah yang lebih berhati-hati menyusul perkembangan perekonomian dunia yang dinilai mendekati mendekati situasi krisis ekonomi pada 2008.

Miliarder George Soros mengatakan China yang masih berusaha menemukan model pertumbuhan baru, yang juga diwarnai dengan kebijakan devaluasi yuan, telah menyebarkan masalah ekonomi dalam negerinya ke seluruh dunia.

Selain itu, negara berkembang saat ini juga tengah mengalami tantangan yang cukup besar, untuk mengembalikan suku bunga acuannya ke arah yang lebih positif. Pelambatan yang masih terjadi di negara berkembang ini, menurutnya, akan memengaruhi akselerasi perbaikan ekonomi di negara maju lainnya.

“Melihat kondisi pasar keuangan yang penuh dengan tantangan yang sangat berat, telah mengingatkan saya kepada situasi krisis yang pernah terjadi pada 2008,” kata Soros, dalam forum ekonomi internasional yang digelar di Srilanka, Kamis (7/1/2016).

Soros mengatakan nilai tukar mata uang global, nilai saham dan harga komoditas yang bergejolak tajam, merupakan indikasi penting bahwa kondisi ekonomi pada tahun ini masih akan cukup berat.

Langkah Bank Sentral China yang ingin menjadikan kurs yuan le bih bersahabat di pasar melalui beragam intervensi di tengah pelemahan ekonomi domestik tersebut justru membingungkan para pelaku pasar.

Kurs mata uang Negeri Panda itu terperosok ke posisi terendah dalam 5 tahun terakhir, setelah Bank Sentral China (People Bank of China/PBOC) pada Rabu (6/1/2016) waktu setempat, menetapkan nilai tukar yuan di level 6,53140 per dolar AS.

Nilai tersebut merupakan level pa ling rendah sejak April 2011 dan membuat nilai tukar yuan di pasar off shore Hong Kong tertekan hingga 1,13%. Akibatnya, nilai tukar yuan jatuh ke level terlemah sejak Maret 2011.

Analis Mizuho Bank Ken Cheung menilai saat ini yuan telah memiliki ruang yang terbatas untuk melakukan depresiasi lebih lanjut. Pasalnya, harga minyak dunia yang terus mengala mi penurunan, telah memengaruhi negara pengimpor energi terbesar di dunia ini.

Meskipun demikian, menurut Cheung, pemerintah China wajib berhati-hati dengan segala bentuk intervensi dan kebijakan pasarnya di masa depan. Pasalnya, pasar telah cenderung menyimpulkan bahwa mekanisme dan kebijakan yang diterapkan China tidak memiliki konsistensi dan kepastian.

“Pemerintah China seakan mengatur perekonomiannya dengan cara sewenang-wenang dan tidak konsisten. Hal ini jelas merusak kredibilitas kebijakan dan kepercayaan investor kepada PBOC, dan juga pasar China,” katanya.

KEBIJAKAN BEIJING

Selain itu, nilai tukar yuan yang terkoreksi selama beberapa hari dan disertai dengan devaluasi lanjutan oleh Bank Sentral China pada Rabu (6/1), telah menambah ke khawatiran tentang kekuatan dan kebijakan ekonomi China pada masa depan.

Menurut data The Markit, raihan Purchasing Manager Index (PMI) Negeri Panda ini telah menunjukkan bahwa China mulai meninggalkan sektor investasi dan manufaktur, serta beralih ke sektor konsumsi dan jasa sebagai mesin penggerak utama perekonomian dalam negeri.

Bank Dunia dalam laporan Global Economics Project (GEP) yang diterbitkan pada Rabu (6/1/2016) juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2016 hanya akan mencapai 2,9%.

Proyeksi tersebut merupakan revisi dari laporan GEP pada Juli 2015, yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan mencapai 3,3%. Pertumbuhan ekonomi di China juga diproyeksikan terus menurun hingga 6,7% pada 2016, melemah dari proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya, yang mencapai 6,9%.

Seperti di ketahui, sejak pertengahan 2014, China telah mengalami serangan turbulensi keuangan. Tercatat, pada Senin (4/7), indeks pasar modal China turun 7%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investor prospek ekonomi

Sumber : Bisnis Indonesia, Jumat (8/1/2016)

Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top