Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BPPT: Indonesia Jadi Nett Importir Energi di 2030

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memprediksi mulai 2030 Indonesia akan menjadi net-importir energi karena keterbatasan sumber daya energi untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.
Pembangkit listrik/Ilustrasi
Pembangkit listrik/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memprediksi mulai 2030 Indonesia akan menjadi net-importir energi karena keterbatasan sumber daya energi untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.

"Pada 2030 dicapai keseimbangan antara kapasitas impor energi dan kemampuan ekspor energi sehingga mulai tahun tersebut Indonesia akan menjadi net-importir energi," ujar Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi BPPT Adiarso dalam peluncuran buku "Outlook energi 2015" di Gedung BPPT, Jakarta, Selasa (3/11/2015).

Penyediaan energi primer 2013-2050 meningkat 8 kali lipat dengan laju pertumbuhan rata-rata 5,7% per tahun, yakni dari 1.179 juta SBM menjadi 9.255 juta SBM.

Bauran energi primer pada 2050 tersebut, kata Adiarso, akan didominasi batu bara sebanyak 45,5%, BBM 27,7%, gas bumi 15,1% dan energi baru terbarukan (EBT) sebanyak 11,7%.

Dia menuturkan kebutuhan energi yang terus meningkat tersebut hanya dapat dipenuhi dari impor energi berupa minyak mentah, bahan bakar minyak (BBM ) dan gas. Untuk gas, bahkan Indonesia akan menjadi net-importer gas mulai 2026 dalam bentuk LNG dan CBM jika produksi gas ke depan tidak ditingkatkan.

Menurut dia, ketergantungan impor energi yang tinggi dapat membahayakan ketahanan energi nasional sehingga upaya diversifikasi energi, pembangunan infrastruktur energi, seperti kilang serta investasi untuk eksplorasi dan eksploitasi sangat diperlukan.

"Selain itu, kebijakan ekspor gas dan batubara perlu ditinjau ulang dalam rangka mengamankan pasokan energi domestik di kemudian hari," ujar Adiarso.

Diversifikasi dalam EBT, kata dia, masih masih sangat kecil, yakni kurang dari seperlima penyediaan energi, di antaranya untuk pembangkit listrik sebesar 42,43 juta SBM pada 2013 atau 11 persen dari total penggunaan energi di pembangkit listrik.

Menurut Adiarso, pemanfaatan EBT masih sedikit karena mempertimbangkan potensi keekonomian pembangkit energi terbarukan sehingga pembangkit yang dinilai menaikkan biaya sistem pembangkit listrik itu tidak diprioritaskan.

"Persoalan-persoalan dalam pengelolaan energi tersebut harus mendapat prioritas untuk dicarikan solusi mengingat energi adalah sebagai salahsatu faktor penggerak perekonomian nasional," ujar Adiarso.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Fatkhul Maskur
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper