RNI Jajaki Pembangunan Pabrik Bioetanol

Perusahaan milik negara, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) menjajaki pembangunan pabrik bioetanol sebagai bagian dari pembangunan pabrik terintegrasi di Majalengka, Jawa Barat.
Yodie Hardiyan
Yodie Hardiyan - Bisnis.com 16 Oktober 2015  |  20:02 WIB
RNI Jajaki Pembangunan Pabrik Bioetanol
Rajawali Nusantara Indonesia. - JIBI

Bisnis.com, CIREBON--- Perusahaan milik negara, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) menjajaki pembangunan pabrik bioetanol sebagai bagian dari pembangunan pabrik terintegrasi di Majalengka, Jawa Barat.

Direktur Utama RNI Didik Prasetyo mengatakan rencana tersebut masih dibicarakan pada saat ini. Perseroan tengah menjajaki kemungkinan kerjasama dengan perusahaan minyak dan gas serta perusahaan otomotif asal Jepang. "Baru dibicarakan saat ini," katanya di sela-sela kunjungan ke Pabrik Gula Sindang Laut, Cirebon, Jumat (16/10/2015).

Menurutnya, perkiraan nilai investasi pabrik tersebut mencapai sekitar Rp200 miliar. Apabila rencana itu jadi diwujudkan maka pembangunan proyek itu dimulai pada 2017 dan masa pembangunannya diperkirakan bakal berlangsung selama 18 bulan.

Didik mengatakan proyek itu bakal terintegrasi dengan pabrik gula, pembangkit tenaga listrik dan pabrik kampas rem di atas lahan seluas 12.000 hektar.

Menurutnya, proyek bioethanol tersebut diperkirakan dapat menghasilkan laba bagi perusahaan sebesar Rp40 miliar di masa mendatang. Pada tahap awal, kapasitas pabrik bioethanol diperkirakan mencapai 50 kilo liter per hari, yang diolah dari ampas tebu, bukan dari tetes tebu.

Pabrik terintegrasi itu rencananya bakal dikembangkan karena perusahaan ingin mengembangkan usaha perseroan lainnya seperti pabrik kampas rem. Menurut Didik, perseroan memiliki pabrik tersebut namun sedang tidak aktif pada saat ini. Pabrik tersebut diharapkan dapat kembali aktif apabila proyek tersebut dapat diwujudkan.

Pada saat ini, RNI banyak bergerak di sektor pengelolaan hasil perkebunan, distribusi, farmasi dan sebagainya. Perusahaan ini memiliki 12 anak perusahaan yang beroperasi berbagai wilayah Indonesia. Didik mengatakan laba perusahaan secara konsolidasi mencapai Rp6 miliar sampai Agustus 2015 atau lebih baik dibandingkan dengan perkiraan rugi Rp74 miliar. "Akhir tahun lalu kami masih koma," katanya.

Didik yang baru menjabat sebagai Direktur Utama RNI sejak pertengahan tahun ini mengatakan arus kas yang dimiliki oleh perusahaan pada tahun lalu hanya sekitar Rp38 miliar. Namun, pada saat ini, dana yang dimiliki oleh perusahaan dapat mencapai Rp200 miliar.

Didik memperkirakan laba perusahaan secara konsolidasi dapat mencapai Rp12 miliar pada akhir tahun ini. Pencapaian itu berasal dari kinerja sejumlah anak perusahaan seperti PT PG Rajawali II, PT PG Rajawali I, PT Phapros Tbk, PT Rajawali Citramass dan sebafaunya. Rugi yang dibukukan oleh Rajawali II diperkirakan turun sebesar 60% tahun ini, kemudian laba Rajawali I diperkirakan mencapai Rp150 miliar pada tahun ini dibandingkan dengan Rp30 miliar pada tahun lalu.

Total produksi gula RNI diperkirakan mencapai 341.000 pada tahun ini atau meningkat dibandingkan dengan 318.000 pada tahun lalu. Pada saat ini, perusahaan juga tengah mempertimbangkan untuk melakukan revitalisasi sejumlah pabrik gula atau melakukan pembangunan pabrik baru. "Tahun 2016 kami putuskan. Itu baru keputusan, belum tentu bangun," katanya.

Keputusan revitalisasi atau pembangunan pabrik baru itu juga akan mempertimbangkan kondisi keuangan perusahaan. Perusahaan bakal melakukan kajian sebelum mengambil keputusan tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rajawali nusantara indonesia, rni

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top