Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produksi Susu di Jatim Stagnan Terdampak Kemarau Panjang

Produksi susu di Jatim pada periode Juli-September 2015 stagnan bila dibandingkan tahun lalu karena faktor kemarau panjang.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 27 Agustus 2015  |  17:23 WIB
Produksi Susu di Jatim Stagnan Terdampak Kemarau Panjang
Peternak menuangkan susu sapi hasil perahan ke wadah, di Subang, Jawa Barat, Sabtu (28/3/2015)./JIBI-Bisnis - Rachman
Bagikan

Bisnis.com, MALANG - Produksi susu di Jatim pada periode Juli-September 2015 stagnan dibandingkan dengan produksi tahun lalu karena faktor kemarau panjang.

Ketua Bidang Usaha Badan Pengurus Pusat Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Sulistyanto mengatakan produksi bisa stagnan karena terbantu pada periode Juli-September banyak sapi yang bunting sehingga produksi terangkat.

“Sapi yang bunting mencapai 51,3%, yakni 95.000 ekor dari total populasi sapi perah yang sebanyak 185.000 ekor,” katanya, Kamis (27/8/2015).

Jika tidak bersamaan dengan banyak yang bunting, produksi susu di Jatim akan merosot hingga 10%-15% karena sulitnya peternak mendapatkan pakan ternak dari rerumputan.

Dari sisi kualitas, produksi susu peternak sapi perah di Jatim juga mengalami penurunan karena faktor pakan  yang hanya bergantung pada konsentrat.

Produksi susu di Jatim mencapai 900 ton per hari dari 185.000 ekor. Jumlah susu sebanyak itu, hampir 100% ditampung di industri pengolah susu.

Idealnya, kata dia, produksi susu bisa meningkat 15% setiap tahun. Namun, banyak kendala sehingga produksi sulit meningkat sesuai dengan target yang dipatok.

Permasalahan yang muncul, sulitnya peternak meremajakan sapi mereka karena faktor pengetahuan maupun biaya yang tidak murah. Selain itu, untuk mendapatkan sapi perah impor tidak mudah karena kuota yang diberikan pemerintah sangat sedikit.

Kebutuhan peremajaan sapi perah idealnya mencapai 10% setiap tahunnya, namun kuota impornya biasanya hanya sekitar 4%.

Di sisi lain, kredit program dinilai mahal oleh peternak serta masa tenornya yang terlalu pendek.

Karena itulah, jika pemerintah benar-benar ingin produksi susu bisa berswasembada, maka masalah-masalah tersebut harus bisa ditangani.

Dengan produksi yang tidak meningkat, kata Sulis, maka dikhawatirkan jarak antara pasokan dan permintaan terlalu jauh.

Saat ini saja, kebutuhan susu segar dari industri pengolah susu (IPS) di Jatim tidak dapat dipenuhi peternak susu setempat.

Dia mencontohkan satu IPS, PT Nestle, membutuhkan pasokan susu sebesar 1.000 ton per hari, tetapi baru dapat dipenuhi peternak hanya 50% saja. Padahal di Jatim ada banyak IPS besar, selain PT Nestle, seperti PT Indo Lakto.

Jika produksi stagnan bahkan berkurang, dia khawatir, IPS berebut susu peternak sapi sehingga bisa berdampak pada kelangkaan susu seperti yang terjadi pada 7 tahun lalu.

Dengan sulitnya peternak sapi perah memperoleh rumput, maka biaya yang mereka otomatis bertambah. Jika dihitung secara bisnis murni, mereka sebenarnya merugi.

“Tapi peternak biasanya nrimo. Mereka mensyukuri apa rezeki yang mereka terima, berapa pun besarnya,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri susu
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top