Impor Amonium Nitrat Dituding Rusak Industri Dalam Negeri

Dugaan dumping produk Ammonium Nitrate (AN) yang dilakukan sejumlah negara berpotensi mematikan industri dalam negeri yang masih berusia seumur jagung.
Muhammad Avisena
Muhammad Avisena - Bisnis.com 10 Juni 2015  |  15:40 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Dugaan dumping produk Ammonium Nitrate (AN) yang dilakukan sejumlah negara berpotensi mematikan industri dalam negeri yang masih berusia seumur jagung.

Menurut Presiden Direktur PT Kaltim Nitrat Indonesia Antung Pandoyo, dengan kondisi saat ini, sebenarnya Indonesia sudah tidak membutuhkan impor AN lagi. Namun, di sisi lain masih banyak produk sejenis  yang diimpor dengan bea masuk 0%.

Ditambah lagi ada indikasi bahwa barang-barang impor tersebut telah dijual dengan harga yang tidak wajar, atau harga dumping. Sejumlah negara yang diduga dumping tersebut a.l. Australia, Malaysia, Korea Selatan, dan China.

Antung mengatakan, saat ini produsen AN dalam negeri sudah mampu memenuhi permintaan produk bahan baku bahan peledak tersebut sebesar 450.000 ton pada 2015, dengan produksi sekitar 500.000 ton/ tahun.

“Investasi yang dilakukan oleh para pemain dalam negeri sudah sangat besar. Kami berharap bahwa ada hal-hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengembalikan pasar ke dalam posisi yang imbang bagi kita,” kata Antung saat ditemui Bisnis, Jumat (5/6).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume impor AN pada 2012 mencapai 371.865 ton, kemudian turun sebesar 276.769 ton pada 2013, dan kembali turun menjadi 161.167 ton.

Namun jika dilihat secara kumulasi, volume impor dari empat negara yang diduga dumping tersebut yaitu sebesar 232.324 ton pada 2012, naik menjadi 251.930 ton pada 2013, dan kemudian turun menjadi  158.068. Kendati mengalami penurunan pada 2014, volume impor produk tersebut mencapai 98% dari total impor AN pada 2014.

Sementara itu, harga AN produk impor yang sangat rendah memaksa para produsen AN dalam negeri mengikuti harga tersebut untuk bisa bersaing di pasar. Keadaan tersebut, lanjut Antung, akan membuat perusahaan dalam negeri tidak akan bisa bertahan.

“Para produsen lokal mau tidak mau harus menjual dengan harga yang segitu, kalau nggak, ya nggak laku. Tapi yang mau saya sampaikan, dengan harga segitu kami berdarah-darah.”

Jika jumlah importasi pada 2014 yang mencapai lebih dari 30% dari kebutuhan dalam negeri  terus berlanjut, menurutnya para produsen harus menurunkan volume produksi hingga di bawah 70% dari kapasitas normal. Jika hal tersebut benar-benar terjadi, bisa dipastikan para produsen dalam negeri akan merugi.

Sejauh ini, PT Kaltim Nitrate Indonesia sudah melakukan pelaporan kepada Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) terkait dugaan dumping yang dilakukan oleh sejumlah negara tersebut. Adapun langkah selanjutnya yang akan ditempuh dari pihak produsen adalah pengajuan standardisasi AN.

“Pengajuan SNI akan menjadi langkah selanjutnya, ini menunggu kesepakatan dari industri yang lain, tetapi kita akan melangkah ke sana. Saya rasa itu hal yang baik.”

Di lain pihak, Ketua KADI Ernawati mengatakan sudah menerima laporan dari PT Kaltim Nitrate Indonesia dan saat ini pihaknya sedang menyelidiki barang impor AN dari Australia, Malaysia, Korea Selatan, dan China.

 “Keempat negara tersebut dalam penyelidikian KADI untuk tindakan dumping terhadap Ammonium Nitrate,” katanya.

Importir besar dari negara yang diduga dumping tahun 2012 berasal dari RRT yaitu sebesar 126.165 ton, sedangkan pada periode tahun 2013 berasal dari Malaysia 125.832 ton dan tahun 2014 juga berasal dari Malaysia sebesar 65.530 ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dumping

Editor : Bastanul Siregar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top