Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Studi Stok Karbon Tinggi Kehutanan Hampir Rampung

Sedikitnya 50 ahli di bidang High Carbon Stock (HCS) atau Stok Karbon Tinggi tengah menyelesaikan sebuah laporan penelitian yang dimulai sejak Februari 2015.
Rustam Agus
Rustam Agus - Bisnis.com 20 Mei 2015  |  21:02 WIB
Studi Stok Karbon Tinggi Kehutanan Hampir Rampung
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, KUALA LUMPUR–Sedikitnya 50 ahli di bidang High Carbon Stock (HCS) atau Stok Karbon Tinggi tengah menyelesaikan sebuah laporan penelitian yang dimulai sejak Februari 2015.

Hasil penelitian ini akan menjadi dasar bagi metode penilaian hutan yang berkadar karbon tinggi.

Tim Ilmuwan diketuai Dr John Raison, mantan Chief Research Scientist di Australia Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO).

Tim ini akan memberikan masukan yang berguna bagi siapapun yang hendak melakukan konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Para ilmuan ini menyumbang pengalaman mereka dalam pertama, menganalisa perubahan stok karbon pada tanah dan biomassa; kedua, penggunaan alat deteksi jauh yang membantu memperkirakan perubahan gas rumah kaca, dan ketiga, penilaian dampak sosial dan ekonomi dari pembukaan perkebunan baru.

Laporan penelitian mereka akan terbuka bagi publik, serta menjadi dasar dari Laporan Sintesis yang akan dipublikasikan pada akhir 2015. Laporan Sintesis ini bertujuan menyediakan:

Pertama, definisi hutan dengan kadar karbon tinggi, yang mengacu pada tingkat emisi gas rumah kaca dari biomassa dan tanah, akibat dari konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit;

Kedua, batas angka untuk emisi gas rumah kaca yang diizinkan, agar konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dapat diterima.

Angka ini akan berbeda pada tiap lokasi dengan mempertimbangkan konteks sosial dan ekonomi--termasuk tingkat kesejahteraan sosial yang dihasilkan dari perkembangan perkebunan baru--khususnya di negara-negara di Asia Tenggara dan Afrika yang sudah merencanakan ekspansi industri kelapa sawit;

Ketiga, sebuah metode praktis untuk mengidentifikasi dan memetakan hutan dengan kadar karbon tinggi; dan

Keempat,  Arahan tentang  bagaimana mengakomodasi hak dan mata pencaharian komunitas lokal maupun masyarakat adat, ketika mereka akan menggunakan pendekatan HCS untuk perencanaan penggunaan lahan.

Laporan Sintesis awal akan mengundang tanggapan publik pada masa konsultasi selama 6 minggu dimulai Juni 2015.

Tanggapan publik yang masuk nantinya akan dipertimbangkan dalam penyelesaian akhir Laporan Sintensis ini. Detail mengenai studi ini dapat ditemukan di www.carbonstockstudy.com.

Dr John Raison mengatakan, HCS Study adalah studi yang bersejarah karena akan menyampaikan informasi yang penting bagi para pengambil kebijakan,  mengenai dampak lingkungan, ekonomi dan sosial dari diberlakukannya batas angka yang berbeda untuk level emisi gas rumah kaca. Dr. John menambahkan,

“Dengan Tim Teknis yang terdiri dari para ilmuwan itu, studi kami mengalami kemajuan yang begitu signifkan,” ujarnya dalam rilis yang diterima Bisnis.com, Rabu (20/5).

Namun, Tim teknis ilmuwan ini  menyadari bahwa HCS hanyalah salah satu faktor yang menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan, terkait perencanaan penggunaan lahan.

Faktor penting lainnya, seperti kebijakan dan peraturan pemerintah, nilai konservasi tinggi (HCVs), pertimbangan agronomi, aspek sosial dan ekonomi serta faktor eksternal lain, adalah hal yang harus dipertimbangkan juga.

Hilangnya stok karbon--berupa emisi gas rumah kaca--tidak dapat dijadikan faktor tunggal ketika hendak menentukan, apakah hutan tersebut bisa dikonversi atau tidak.

Ketua Panitia Pengarah yang bertugas mengawasi HCS Study, Sir Jonathon Porritt, mengharapkan hasil Studi Ilmiah HCS ini dapat memberi masukan penting bagi masyarakat dan bumi, tentang dampak dari konversi hutan.

“Kami juga berharap hasil studi ini dapat membantu  proses perencanaan penggunaan lahan, bersama dengan proses lain seperti, Nilai Konservasi Tinggi (HCV), Analisa Dampak Lingkungan dan Sosial (SEIA), dan Free, Prior and Informed Consent (FPIC),” ujarnya.

Studi Ilmiah HCS mengundang masukan dari semua pemangku kepentingan, dan terbuka untuk  kerja sama dalam meningkatkan keberlanjutan dari industri kelapa sawit.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rspo industri sawit Stok Karbon Hutan

Sumber : Secretariat Sustainable Palm Oil Manifesto (HCS Study)

Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top