Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bulog Subdivre Surabaya Selatan Serap Beras Terbanyak di Jatim

ari hasil penyerapan gabah dan beras petani Jawa Timur sejak Januari hingga Mei, total pengadaan yang dilakukan Perum Bulog Divre Jatim sekitar 148.000 ton.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 10 Mei 2015  |  21:33 WIB
Pekerja mengangkut beras di gudang beras Badan Urusan Logistik (Bulog) di Tangerang, Banten, Jumat (27/3). - Antara
Pekerja mengangkut beras di gudang beras Badan Urusan Logistik (Bulog) di Tangerang, Banten, Jumat (27/3). - Antara

Bisnis.com, SURABAYA - Dari hasil penyerapan gabah dan beras petani Jawa Timur sejak Januari hingga Mei, total pengadaan yang dilakukan Perum Bulog Divre Jatim sekitar 148.000 ton.

Dari jumlah itu, Subdivre Surabaya Selatan meliputi wilayah Mojokerto dan Jombang menyumbang serapan tertinggi sebanyak 31.000 ton.

“Subdivre Surabaya Selatan menyumbang penyerapan gabah beras tertinggi mencapai 31.000 ton atau 21% dari total pengadaan gabah beras di Jatim,” kata Humas Peum Bulog Divre Jatim Julia Hermawati, dalam pernyataan yang dilansir Setdaprov Jatim, Sabtu (10/5/2015).

Menurutnya, serapan Subdivre Surabaya Selatan itu sedianya ditargetkan sebesar 49.000 ton selama bulan Januari hingga Mei. Namun, jika dipersentasekan hasil serapan saat ini telah mencapai 62% dari target yang ditetapkan.

Kedua tertinggi yakni Subdivre Bojonegoro yang juga meliputi wilayah Lamongan dan Tuban. Wilayah Bojonegoro ini biasanya menyumbang serapan gabah beras petani tertinggi.

Namun, saat ini masih menyerap sebesar 17.000 ton atau menyumbang penyerapan Bulog Jatim sebesar 11,5%.

Sedianya, target penyerapan gabah dan beras untuk Subdivre Bojonegoro yakni sebesar 62.000 ton selama Januari hingga Mei. Artinya, pengadaan saat ini baru mencapai 27% dari target yang ditetapkan.

Dengan masih banyaknya panen di wilayah tersebut, dia optimistis penyerapan bisa lebih banyak, minimal mendekati target.

Sebelumnya, Kepala Perum Bulog Divre Jatim Witono menyebutkan banyak faktor yang menjadi kendala bagi Bulog sehingga belum mampu menyerap gabah dan beras petani secara optimal. Salah satunya, kendala persaingan usaha dengan pihak swasta.

“Pelaku usaha perberasan swasta yang skala besar bisa beli gabah dengan mutu dan kualitas apapun diatas HPP (Harga Pembelian Pemerintah),” katanya.

Selama ini, Perum Bulog masih dibatasi HPP yang ditentukan melalui Instruksi Presiden (Inpres).

“Jadi kami masih sulit bisa bersaing dengan mereka. Apalagi Inpres terbaru Nomor 5 Tahun 2015 soal HPP beras baru keluar Maret saat panen raya sudah berlangsung. Sehingga kami sedikit terlambat melakukan pengadaan,” katanya.

Nilai ketentuan HPP, kata dia, juga masih terlalu rendah karena di lapangan harga jual sudah di atasnya.

Dalam Inpres disebutkan, harga gabah kering panen (GKP) Rp3.700 per kilogram (kg) di tingkat petani, GKP di penggilingan Rp3.750 per kg, gabah kering giling (GKG) di penggilingan Rp4.600 per kg, GKG di Bulog Rp4.600 per kg. Sedangkan harga pengadaan beras di Bulog ditetapkan Rp7.300 per kg.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bulog
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top