Eksplorasi Panas Bumi, Kuningan Minta Tak Ada Tender Ulang Ciremai

Pemerintah Kabupaten Kuningan meminta Kementerian ESDM tidak lagi memasukan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Ciremai dalam lelang ulang.
Wisnu Wage Pamungkas | 02 Maret 2015 15:30 WIB
Chevron sejak lama menggarap WKP Darajat. - Bisnis.com

Bisnis.com, KUNINGAN—Pemerintah Kabupaten Kuningan meminta Kementerian ESDM tidak lagi memasukan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Ciremai dalam lelang ulang.

Wakil Bupati Kuningan Acep Purnama pihaknya sejak awal menyambut gembira hengkangnya PT Chevron dari Ciremai mengingat selama ini keberadaan proyek tersebut dikeluhkan oleh masyarakat Kuningan terkait kekhawatiran dampak  negative proyek. “Kami senang Chevron mundur,” katanya di Kuningan, Senin (2/3/2015).

Pihaknya menilai alasan Chevron keluar dari Ciremai karena kapasitas panas yang dihasilkan dari kawasan Gunung Ciremai, hanya berkisar antara 180 hingga 2000 derajat celcius sedangkan yang dibutuhkan hingga 2500 derajat celcius. “Jika proyek tersebut benar berjalan menurut saya nilai ekonomis yang dihasilkan tidak seimbang dengan dampak sosial yang akan dialami masyarakat,” katanya.

Terkait rencana Kementerian ESDM melelang ulang WKP Ciremai, pihaknya meminta hal itu lebih baik tidak dilakukan. Pihaknya menyarankan eksplorasi geothermal untuk antisipasi krisis listrik di Indonesia pada 2020 mendatang sebaiknya dilakukan di daerah lain yang memiliki potensi panas bumi yang memadai.

"Silakan menggali potensi geothermal di daerah lain, jangan di Kuningan. Jika Majalengka berminat silakan," katanya.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jabar Sumarwan HS mengatakan keputusan Chevron mundur dari Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ciremai, Kuningan sudah diterima pihaknya sejak bulan lalu.

“Chevron resmi mengajukan pengunduran diri. Alasannya teknis lebih ke skema manajemen mereka,” katanya pada bisnis di Bandung, Senin (2/3/2015).

Menurutnya, dari skema bisnis perusahaan asal Amerika Serikat tersebut memilih melepas Ciremai untuk berkonsentrasi pengembangan bisnis di daerah lain. Sumarwan memastikan manajemen sudah memutuskan tidak akan melanjutkan Ciremai berdasarkan rencana bisnis yang mereka miliki. “Kami tidak kecewa, tidak apa-apa Chevron mundur,” ujarnya.
 
Pihaknya sendiri sudah menyusun laporan ke Kementerian ESDM terkait mundurnya Chevron dan menunggu tindak lanjut berupa pengumuman tender ulang WKP dari kementerian. Saat ini di lapangan, WKP Ciremai sudah dikosongkan dan tidak ada bentuk pekerjaan apapun.

Chevron sendiri meski sudah mengantongi kepastian sebagai pemenang sejak tahun lalu, masih menjajaki kebijakan Pemda Kuningan. Sumarwan memastikan, perusahaan tersebut ingin menggarap Ciremai tanpa ada persoalan di lapangan. “Tapi mungkin di sisi lain secara kultur dan rencana bisnisnya mereka memutuskan mundur. Kami tidak bisa menghalangi mereka,” katanya.

Sumarwan membantah Chevron keluar karena potensi panas bumi Ciremai yang kecil dan tidak feasible. Namun pihaknya menduga, kapasitas Ciremai tidak sesuai dengan harapan Chevron yang biasa mengelola panas bumi dengan potensi kandungan besar. “Kalau dilihat mungkin ini misalnya, status kandungannya tidak seperti di Kamojang, Garut,” katanya.

Pihaknya juga menampik jika keputusan mundurnya Chevron didasari penolakan warga Kuningan atas proyek tersebut. Menurutnya opini tersebut muncul padahal di lapangan Chevron belum melakukan pekerjaan teknis sama sekali. “Nggak ada tekanan, ini murni keputusan internal mereka,” katanya.

General Manager Policy, Government and Public Affair Chevron Geothermal Indonesia Paul Mustakim mengatakan keputusan pihaknya mundur dari Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ciremai, Kuningan, semata-mata didasarkan pada pertimbangan bisnis bukan karena adanya intimidasi ataupun penolakan yang dilakukan warga setempat.

Menurutnya, penolakan sejak awal dari warga pada Chevron tidaklah benar karena hingga kini pihaknya belum pernah bertemu warga sekitar yang menolak masuknya Chevron dalam penggarapan proyek panas bumi yang diprediksi mengandung energi mencapai 150 Megawatt (MW)."Apa yang kami lakukan untuk WKP Ciremai masih sebatas level di kantor saja sehingga kami belum pernah ketemu mereka," katanya pada bisnis.

Saat disinggung, apakah perusahaan asal Amerika Serikat itu menderita kerugian akibat melepaskan kewenangannya sebagai pemenang lelang proyek panas bumi tersebut, Paul menegaskan kalaupun ada hal itu merupakan proses bisnis yang biasa terjadi.

Meskipun mundur dari proyek tersebut, sampai saat ini Chevron belum melakukan pengeboran, Pihaknya memaklumi jika banyak informasi dan kabar tidak benar yang beredar di masyarakat sekitar Gunung Ciremai terkait proyek Geothermal tersebut. "Ini menjadi tantangan industri untuk memberikan pemahaman bagi masyarakat," jelas Paul.

Mengenai kelangsungan bisnisnya di Jabar, disampaikannya sama sekali tak mempengaruhi kinerja mereka. Terlebih Chevron sejak lama menggarap WKP Darajat, Kab Garut yang memiliki wilayah konsesi 5.000 hektar. Sekadar gambaran, biaya yang dikeluarkan untuk investasi di sektor energi panas bumi setidaknya menghabiskan 3,5 juta dollar AS untuk 1 MW. [Maman Abdurachman/Hedi Ardhia/Wisnu Wage]

Tag : panas bumi
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top