Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

RAPBN 2015: Seskab Sesalkan Pernyataan Tim Transisi Sebagai 'Jebakan' Politis

Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo alam menyesalkan pernyataan Hasto Kristiyanto, Deputi Tim Pemerintahan Transisi Joko Widodo-JK soal RAPBN 2015 yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rapat paripurna DPR RI pada Jumat (15/8/2014).
Ilustrasi RAPBN 2015/Ilustrasi
Ilustrasi RAPBN 2015/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA--Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo alam menyesalkan pernyataan Hasto Kristiyanto, Deputi Tim Pemerintahan Transisi Joko Widodo-JK soal RAPBN 2015 yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rapat paripurna DPR RI pada Jumat (15/8/2014).

"Saya menyesalkan pernyataan itu, seharusnya Tim Transisi Jokowi-JK fokus pada persiapan program dan penyusunan kabinet, bukan membuat pernyataan yang justru membuat bingung masyarakat,"  ujarnya sebagaimana dilansir laman  Seskab, Senin (18/8/2014).

Berdasarkan catatan Bisnis, Hasto pada Sabtu (16/8/2014) menyampaikan pernyataan bahwa RAPBN 2015 yang berkekuatan Rp2.019,9 triliun, dengan pendapatan negara sebesar Rp1.762.3 triliun yang disampaikan oleh Presiden SBY, seharusnya dirancang lebih realistis tanpa menyertakan defisit yang mencerminkan ketergantungan negara terhadap pembiayaan yang berasal dari utang luar negeri dan dari pasar uang.

Hasto menilai RAPBN 2015 sebagai gambaran "jebakan"' politik populis yang terakumulasi sejak 2008.

Ia mengeritik rendahnya rasio perpajakan sekitar 12.3%, besarnya subsidi BBM dan listrik sebesar Rp364 triliun, utang Pertamina sebesar Rp48 triliun, yang mengakibatkan RAPBN 2015 defisit sebesar Rp257 triliun.

Seskab Dipo Alam menduga Hasto Kristiyanto tidak paham dengan subtansi RAPBN 2015 yang diajukan oleh Presiden SBY padahal dibanding sepuluh tahun lalu, saat Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden, nilai APBN sudah naik empat kali lipat.

"Saat Megawati jadi Presiden, total belanja negara hanya Rp427,2 triliun. Pada 2014 ini, angka tersebut mencapai Rp1.876,9 triliun, meningkat sekitar empat kali lipat," kata Dipo.

Mengenai keadilan dan kerakyatan sebagaimana disinggung Hasto, Seskab mengambil contoh bidang pendidikan.

Ia mengemukakan pada 2004, setelah hampir 60 tahun merdeka, hanya 14 dari 100 anak usia 19 sampai 23 tahun yang masuk ke perguruan tinggi.

Sejak itu, pemerintah terus mencari dan melakukan berbagai cara meningkatkan jumlah itu dan kini, dari 100 anak usia 19 tahun, 30 telah masuk ke perguruan tinggi atau dua kali lipat dari 10 tahun sebelumnya.

Sementara dari sisi kesehatan, menurut Dipo, dalam 10 tahun terakhir anggarannya meningkat sekitar delapan kali lipat, dari Rp8,1 triliun pada 2004, menjadi Rp67,9 triliun pada 2014.

Seskab mengingatkan dengan mulai beroperasinya BPJS Kesehatan pada 1 Januari 2014, sebanyak 126,4 juta penduduk Indonesia telah memperoleh jaminan kesehatan. Diharapkan pada 2019 mendatang, sistem jaminan kesehatan ini akan mencakup seluruh penduduk di seluruh tanah air.

Menurut Seskab, banyak hal prestasi dan kekurangan yang telah disampaikan secara jujur oleh Presiden SBY baik pada Pidato Kenegaraan maupun saat menyampaikan RUU APBN 2015, Jumat (15/8/2014) lalu, yang diapresiasi oleh sejumlah kalangan.

Presiden SBY, kata Seskab, sudah menegaskan apa yang dicapai bangsa ini dalam usia ke-69 tahun kemerdekaannya, bukan monopoli siapapun. Semua itu adalah kulminasi gabungan dari sumbangsih dan kerja keras seluruh generasi, dari era Presiden Soekarno, era Presiden Suharto, era Presiden B.J. Habibie, era Presiden Abdurrachman Wahid, era Presiden Megawati Soekarno-putri, hingga Presiden SBY saat ini.

Seskab tidak habis mengerti dengan kritik yang disampaikan oleh Hasto itu.

"Saya sih memakluminya, mungkin karena sudah `puasa selama 10 tahun," ujarnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Ismail Fahmi
Editor : Ismail Fahmi

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper