Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gaya Koboi Dahlan: Gebrak Meja, Pertamina-PLN Tandatangani Kontrak

Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku sempat harus menggebrak meja hingga PT Pertamina dan PT PLN pada akhirnya menandatangani kesepakatan jual beli listrik atau power purchase agreement, PPA.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 24 April 2014  |  12:04 WIB
Menteri BUMN Dahlan Iskan - Jibiphoto
Menteri BUMN Dahlan Iskan - Jibiphoto

Bisnis.com, JAKARTA – Bukan Dahlan Iskan kalau tak mampu membuat berita dengan aksi koboinya yang cenderung nyeleneh.

Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku sempat harus menggebrak meja hingga PT Pertamina dan PT PLN pada akhirnya menandatangani kesepakatan jual beli listrik atau power purchase agreement, PPA.

Kini, Dahlan Iskan mengaku lega Pertamina dan PLN akan segera menandatangani kesepakatan jual beli listrik untuk 8 lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi atau proyek geothermal yang sedang dikerjakan Pertamina.

"Senin (28/4), ke dua pihak sudah sepakat menandatangani PPA. Lega karena untuk mencapai kesepakatan itu saya sempat harus menggebrak meja," kata Dahlan, di Kantor Garuda Maintenance Facilites, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Kamis (24/4/2014).

Menurut Dahlan, sejauh ini dari 9 lokasi yang ditawarkan disepakati PPA pada 8 lokasi, dengan skema harga yang sudah ditetapkan.

Berdasarkan catatan, 8 proyek geothermal tersebut antara lain:

  • PLTP Lumut Balai 1-2 110 MW (Sumatera)
  • PLTP Lumut Balai 3-4 110 MW (Sumatera)
  • PLTP Ulu Belu 110 MW
  • PLTP Lahendong 40 MW (Manado)
  • PLTP Kamojang 30 MW (Jabar)
  • PLTP Hulu Lais 110 MW (Sumatra)
  • PLTP Sungai Penuh 55 MW (Sumatra)
  • PLTP Karaha 50 MW (Jabar)

Proyek geothermal dengan total investasi sekitar Rp15 triliun dengan kapasitas 600 megawatt (MW) itu sempat mangkrak karena harga jual yang belum kunjung mencapai kesepakatan.

Pertamina ingin menjual listrik dengan harga tinggi yakni 9,7 sen dolar AS/kwh, sedangkan PLN menawar dengan harga rendah yakni 9,1 sen dolar AS/kwh.

Dahlan yang juga mantan Dirut PT PLN ini menjelaskan, bahwa sesunguhnya tidak ada alasan untuk menunda perjanjian jual beli.

Potensi Indonesia di bidang geothermal terbesar di dunia, Pertamina ada uang untuk membangun, PLN bisa sebagai pembeli, dan listrik dibutuhkan seluruh masyarakat se-Indonesia.

Ia pun meyakini bahwa kesepakatan tersebut harus terimplementasi dengan baik di lapangan sehingga memberikan yang terbaik bagi masyarakat yang membutuhkan tenaga listrik.

"Saya sudah cukup menggebrak, masak saya harus membalikkan meja lagi?," ujar Dahlan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Dahlan Iskan
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top