Sistem Logistik Terintegrasi Dongkrak Nilai Produk Olahan

Keberadaan sistem logistik terintegrasi dipercaya membawa nilai tambah bagi berbagai produk hasil olahan anak negeri. Sejauh ini, terdapat beberapa sektor produksi cukup potensial mendongkrak nilai pasar jasa logistik nasional.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 26 Maret 2014  |  19:20 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Keberadaan sistem logistik terintegrasi dipercaya membawa nilai tambah bagi berbagai produk hasil olahan anak negeri. Sejauh ini, terdapat beberapa sektor produksi cukup potensial mendongkrak nilai pasar jasa logistik nasional.
 
Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menilai terdapat beberapa sektor yang dapat dijadikan ujung tombak pemasukan bagi jasa logistik nasional, yaitu sektor industri pengolahan non migas, serta beberapa sektor pertanian dan perdagangan.
 
Pada Sektor Industri Pengolahan non migas, potensi nilai pasar logistik industri makanan dan minuman diperkirakan sebesar Rp99,7 triliun, diikuti industri peralatan, mesin, dan perlengkapan transportasi Rp78,3 triliun. Selain itu, masih ada industri pupuk, kimia, dan karet senilai Rp34 triliun, serta industri tekstil Rp25,5 triliun.

Sementara dari sektor pertanian, potensi nilai pasar logistik terbesar datang dari produk tanaman dan bahan makanan yang diperkirakan dapat berkontribusi ke jasa logistik sebesar Rp91,9 triliun, diikuti perikanan Rp43,1 Triliun.

Sedangkan masih ada tanaman perkebunan yang menyetor penghasilan kepada pemain logistik sebanyak Rp25,9 triliun, serta peternakan Rp24,4 Triliun.
 
"Sektor logistik berkaitan dengan penanganan, penyimpanan, dan pemindahan barang atau komoditas dari suatu lokasi ke lokasi lain. Sektor logistik Indonesia menangani barang dan komoditas dengan volume dan nilai yang cukup besar dengan pertumbuhan yang signifikan," ujarnya, Rabu (26/3/2014).
 
Menurutnya, besaran kontribusi produk industri nasional kepada jasa logistik itu amat erat kaitannya dengan kondisi makro ekonomi. "Besaran itu prediksi dengan asumsi biaya logistik sebesar 14,08%, dan pertumbuhan ekonomi 5%," ujarnya.
 
Sementara itu, Direktur Operasional Lookman Djaja Kyatmaja Lookman sebagai pemain jasa pengiriman darat, menilai besaran sumbangsih produk nasional bagi jasa logistik belum maksimal. Aktivitas niaga dari produk industri lokal masih mayoritas di Pulau Jawa.
 
Di lain pihak, berbagai komoditas keluaran industri nasional itupun belum mampu mengimbangi keberadaan komoditas asing yang mendorong pemasukan jasa logistik nasional. Sebab, kata Kyatmaja, produksi industri nasional hanya mampu memasok kebutuhan domestik, tidak untuk ekspor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
logistik

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top