Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Petani Lebak Tanam Padi Gogo, Dukung Ketahanan Pangan

Petani Kabupaten Lebak, Banten, mengembangkan tanaman padi gogo di lahan darat untuk mendukung program ketahanan pangan nasional.
Fatkhul-nonaktif
Fatkhul-nonaktif - Bisnis.com 28 Oktober 2013  |  02:45 WIB

Bisnis.com, LEBAK - Petani Kabupaten Lebak, Banten, mengembangkan tanaman padi gogo di lahan darat untuk mendukung program ketahanan pangan nasional.

"Kita terus mendorong agar petani terus mengembangkan tanaman padi gogo," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Dede Supriatna di Rangkasbitung, Minggu (27/10/2013).

Dia mengatakan pihaknya menjalin kerja sama dengan Perum Perhutani dalam menyediakan lahan darat untuk ditanami padi gogo.

Melalui kerja sama ini, kata dia, diharapkan masyarakat bisa menggarap lahan Perum Perhutani untuk ditanami padi gogo.

Apabila, Perum Perhutani membuka lahan untuk ditanami kayu-kayuan, dapat dilibatkan masyarakat sebagai penggarap dengan pola tumpang sari.

Dengan pola tumpang sari ini, kata dia, masyarakat bisa menanam padi gogo dengan tanaman lainnya, seperti jagung, kacang tanah, pisang dan sayur-sayuran.

Diperkirakan tanaman padi gogo atau huma di Kabupaten Lebak sekitar 10.000 hektare dengan produksi 50.530 ton gabah kering pungut (GKP).

"Kami optimistis produksi padi gogo terealisasikan sebanyak 50.530 ton, karena sampai Oktober mencapai 38.661 ton," katanya.

Menurut dia, petani padi gogo bisa mengembangkan tanaman lainya dengan tidak memerlukan air banyak, juga biaya relatif murah.

Saat ini, petani gogo yang masih bertahan dari peninggalan nenek moyangnya adalah masyarakat komunitas Suku Baduy.

Namun, saat ini masyarakat menyukai pengembangan padi huma dengan produksi selama 3-6 bulan. "Kita sangat terbantu produksi pangan dari padi gogo itu," katanya.

Sanip, seorang petani Baduy mengatakan pihaknya menanam padi gogo di areal lahan darat, karena bagi warga Baduy menanam padi di sawah dilarang adat.

Karena itu, kata dia, pihaknya mengembangkan padi gogo bisa dipanen dalam enam bulan, atau setahun dua kali, dengan menggunakan benih lokal.

Petani di sini menanam padi gogo sejak turun temurun karena berdasarkan kepercayaan adat. "Kami setiap tahun tidak membeli beras dari hasil padi gogo seluas 1,5 hektare milik lahan Perum Perhutani," katanya.

Sementara itu, Sarpi, seorang petani Banjarsari mengatakan dirinya lebih memiliki bertani padi gogo karena topografi lahannya perbukitan dan pegunungan, yang sulit dijadikan areal persawahan.

Selain itu juga biaya pengelolaan tanam gogo hanya Rp1 juta per hektare, jauh lebih rendah dibandingkan biaya pengelolaan pada sawah yang mencapai Rp6 juta per hektare. Sedangkan harga beras padi gogo, kata dia, relatif tinggi di pasaran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ketahanan pangan

Sumber : Newswire

Editor : Fatkhul-nonaktif

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top