Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wawancara Khusus Chatib Basri: Ada Presure Bunga Tapi Tak Terlalu Signifikan

Bisnis.com, JAKARTA - Menjelang pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang RAPBN 2014 di hadapan para anggota DPR dan DPD, tim redaksi Bisnis Indonesia mewawancarai Menteri Keuangan Chatib Basri pada Kamis (15/8/2013). Pak Dede, begitu
Fatkhul-nonaktif
Fatkhul-nonaktif - Bisnis.com 20 Agustus 2013  |  22:31 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Menjelang pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang RAPBN 2014 di hadapan para anggota DPR dan DPD, tim redaksi Bisnis Indonesia mewawancarai Menteri Keuangan Chatib Basri pada Kamis (15/8/2013). Pak Dede, begitu panggilan akrab Menkeu, menjawab seluruh pertanyaan dengan lugas. Berikut petikannya yang dibuat secara berseri:

Insentif tekan penerimaan pajak, sehingga pembiayaan akan lebih banyak. Prospek pembiayaan dengan utang bagaimana?

Good question. Saya nggak mau ngomong banyak-banyak soal insentif pajak kalau bottom line fiskal saya terganggu karena fungsi dari Menkeu itu adalah menjaga fiskal tetapi kita harus realistis coba lihat belanja kita itu sampai Juli masih under. Defisitnya masih 1% sampai dengan Juli

Padahal yang mau dikejar itu 2,38%, berarti masih ada ruang defisit 1,38%. Dengan begitu sebenarnya ruang fiskal ada.

Kita susahnya kan terus dihantui dengan jebolnya fiskal tetapi kalau dilihat dari progress-nya bagaimana, defisit masih 1% sebetulnya ada ruang untuk itu.

Saya itu orang pragmatis, kalau Anda masuk uang bisa tetapi disbursment-nya macet, itu beratti itu Anda kumpulin duit orang tetapi dipakai itu malah tekan pertumbuhan.

Kalau Anda tidak bisa spend, kenapa tidak pajaknya dikurangi, end up defisitnya sama. Role government itu kan dua kalau mau ekspansif belanja tingkatkan, tetapi kalau tidak bisa belanja, pajaknya kurangi sehingga defisitnya sama pada akhirnya.

Kalau hal ini bisa dilakukan, artinya saya kasih stimulus secara tidak langsung. Ini yang tidak banyak orang realize. Pada 2008, waktu krisis global, yang kita lakukan adalah 61% dari stimulus adalah tax cut.

Pembicaraan internal dangan Sri Mulyani, dia bilang mau menaikan spending, tetapi saya bilang kok spending yang dinaikkan, orang tidak bisa dibelanja, dan uangnya tidak turun-turun.

Kenapa tidak dipotong saja pajakya, kebetulan sama dengan KUP waktu itu, makanya pajak company dari 30% menjadi 25%. Itu efektifkan? Kita survive dari terpaan krisis.

Kalau utang pada 2014 akan lebih rendah karena rasio utang di bawah 25% karena primernya kita bisa kecilkan dari dari Rp100 triliun, menjadi hanya sekitar Rp30 triliun. Defisitnya menjadi 1,49%

Tentu akan ada presure dari bunga tetapi tidak terlalu signifikan. Saya bisa lihat proyeksi  tax rasio turun, berarti penerbitan SBN bisa lebih kecil dari tahun ini. Saya lupa angkanya, tetapi kalau Anda bayangkan, defisit primer menjadi Rp30 triliun kan banyak. Kalau tax ratio bisa 22,8% atau sekitar 1% dari PDB.

Interest rate naik tekan pertumbuhan?

Kalau bank besar, penyesuaiannya tidak banyak. Akan tetapi pada bank kecil iya karena mereka harus competing fund.

Perusahaan yang rely ke bank medium size memang akan terkena efek dari interest rate.

Pengaruh pada investasi memang ada. Oleh karena itu saya memfokuskan perhatian pada daya beli karena komposisi investment kan baru 25% sedangkan konsumsi itu 55%. Jadi bisa dikompensasi.

Growth 6,3% sepertinya tidak mungkin tercapai dengan angka 5,8% pada kuartal II. Kata BPS itu growth pada semester I hanya 5,9% padahal di DPR kita sampaikan prognosis 6%-6,1%

Tetapi kita akan coba, melihat dari kecenderunan ini saya kira 6,3% agak sulit karena harus coba tumbuh di atas 6,5% di semester dua, dan itu susah sekali

Saya akan coba di kisaran 6% dan di dunia yang seperti ini, maka angka 6% itu susah. China mungkin turun dari angka 7,5% menjadi 7%. Dan, India di bawah angka 4%, Indonesia di antara G-20 itu nomer dua.

Kita coba berikan langkah supaya tidak terjadi pemutusan hubungan kerja.

Menurut Anda, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) terlambat?

Kalau mau jujur, MEA terlambat. Akan tetapi kan better late than doing nothing. Secara human resource kita kalah sebenarnya even dibandingkan Filipina. Tetapi kitakan tidak boleh menyerah.

Memang dari dulu terlambat, saya tidak mau nyalahin yang kemaren. Kita harus lakukan sekarang saya masih lihat bonus demografi sampai 2020. Jadi ada ruang untuk itu.

 

Cuplikan Wawancara Sebelumnya:

MOMENTUM EMAS YANG HILANG

SAYA SELALU MENGORBANKAN PAK GITA WIRJAWAN

SAYA INGIN MEMBUAT SUCCESS STORY

NGGAK BENAR DONG, INVESTOR MASUK KARENA INSENTIF PAJAK

UKM Itu Tidak Ngerti Cara Bikin Buku

Share Asing Masih Berpengaruh Sekali

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

chatib basri

Sumber : Hasil Wawanara Sri Mas Sari, Ahmad Puja Rahman Altiar, Achmad Aris, Yeni H. Simanjuntak, Setyardi Widodo, Lahyanto Nadie, Arif Budisusilo

Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top