Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Makna Dibalik Kedatangan Menlu Prancis ke Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA - Datangnya Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius seakan menegaskan keinginan yang kuat bagi Total E&P Indonesie untuk terus menjadi pengelola Blok Mahakam, Kalimantan Timur.
Lili Sunardi
Lili Sunardi - Bisnis.com 11 Agustus 2013  |  22:01 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Datangnya Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius seakan menegaskan keinginan yang kuat bagi Total E&P Indonesie untuk terus menjadi pengelola Blok Mahakam, Kalimantan Timur.

Dalam pertemuannya dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik, Laurent Fabio membawa serta delegasi bisnis yang berisi utusan perusahaan asal negaranya. Tujuannya, Perancis berusaha membantu investor asal Prancis mendapatkan kemudahan dalam berinvestasi di Indonesia, termasuk kejelasan nasib Total di Blok Mahakam selepas 2017.

Laurent Fabius bukanlah pejabat Prancis pertama yang datang secara khusus menanyakan kejelasan nasib Total di Blok Mahakam. Sebelumnya, Menteri Perdagangan Luar Negeri Prancis Nicole Bricq juga melakukan hal yang sama ditemani delegasi pengusaha asal negaranya.

Kepada Wacik, Laurent menyampaikan kejelasan nasib Total di Blok Mahakam sangat penting bagi hubungan kedua negara. Apalagi, sebelumnya juga dirinya telah menandatangani kemitraan strategis di sektor energi yang masih bisa dioptimalkan.

“Prancis memiliki teknologi baru yang siap untuk dibagi dengan Indonesia, kami juga selalu memperhatikan lingkungan, pelatihan, dan lapangan kerja bagi penduduk. Ini merupakan pendekatan khas Prancis, sehingga kami yakin hubungan kami akan tetap berjalan baik,” katanya.

 Jean-Marie Guillermo, senior vice president Total E&P Asia Pacific yang merupakan induk afiliasi Total E&P Indonesie bahkan secara khusus mempertanyakan kejelasan Total dalam kontrak baru pengembangan Blok Mahakam setelah 2017.

Saat bertemu Wacik itulah, Total secara terbuka mengatakan ada investasi yang terpaksa ditahan selama belum ada kejelasan mengenai pengembangan Blok Mahakam setelah 2017. Padahal, secara keseluruhan perusahaan asal Perancis itu siap menggelontorkan US$7,3 miliar untuk mengembangkan blok migas itu.

Guillermo juga menawarkan 30% kepemilikan untuk mengembangkan Blok Mahakam kepada PT Pertamina (Persero) setelah 2017. Saham itu ditawarkan dalam masa transisi untuk membagi pengalaman, serta teknologi selama 5 tahun (2017-2022).

Total sendiri terus menekan pemerintah segera memutuskan pengelola Blok Mahakam setelah 2017. Kristanto Hartadi, Kepala Hubungan Media PT Total E&P Indonesie, mengatakan tidak dapat melanjutkan sejumlah proyek sebelum ada kepastian kontrak Mahakam pasca-2017.

Alasannya, setiap proyek migas membutuhkan waktu 5 tahun, sementara kontrak Mahakam menyisakan tidak lebih dari 3 tahun lagi. “Investor tentu memikirkan pengembalian investasi. Kami tidak mungkin mengambil risiko yang sudah pasti tidak menguntungkan,” ungkapnya.

Meski Mahakam telah mengalami penurunan alamiah sebesar 50% per tahun, Total masih sangat berminat mengembangkan blok itu. Teknologi dan pengalaman yang dimiliki untuk mengoptimalkan pengembangan blok itu menjadi alasan utama, kenapa perusahaan terus meminta disertakan dalam kontrak baru Mahakam.

Sementara itu, Pertamina tidak permasalahkan tawaran manajemen Total E&P terkait tawaran kepada BUMN migas itu mendapatkan 30% saham pada masa transisi pengelolaan Blok Mahakam pasca-berakhirnya kontrak pada 2017.

Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan mengatakan masa transisi itu diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan Pertamina dalam mengoperasikan wilayah kerja migas itu. Dia pun mengaku tidak masalah jika ada masa transisi pengelolaan Blok Mahakam selama 5 tahun. 

“Selama itu memberikan manfaat pengetahuan bagi Pertamina, itu tidak masalah,” ujarnya. Terkait tawaran hak partisipasi 30% bagi Pertamina, Karen menegaskan akan menyerahkan hal itu kepada keputusan yang akan dibuat pemerintah nantinya.

Tetap Bertahan

Seakan tidak mau kalah, Jero Wacik menegaskan akan mengutamakan kepentingan nasional dalam kontrak baru pengembangan Blok Mahakam. Pihaknya, masih terus memikirkan keputusan terbaik dengan mempertimbangkan seluruh aspek, termasuk optimalisasi produksi.

Meski sempat melontarkan wacana akan menyerahkan keputusan kontrak baru Mahakam kepada pemerintahan selanjutnya, Wacik mengaku terus mengevaluasi seluruh opsi dan kemungkinan yang dapat diambil, termasuk tawaran yang diberikan Total E&P Asia Pacific.

Tekanan agar pemerintah memastikan nasib kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di blok migas bukan kali ini saja. Sebelumnya, mitra Total di Mahakam, Inpex juga meminta pemerintah segera memperpanjang kontraknya di Masela.

Inpex melalui Inpex Masela Ltd meminta kontraknya di Blok Masela, Laut Arafura diperpanjang, karena tenggat kontrak saat ini dianggap terlalu pendek dari masa produksi, sehingga tidak ekonomis.

Kontrak yang dipegang Inpex saat ini akan habis pada 2028, sementara masa produksi blok itu baru dimulai pada 2018. Rentang waktu 10 tahun itu dianggap tidak cukup untuk mengembalikan investasi yang telah dikeluarkan perusahaan.

Pri Agung Rakhmanto, pengamat energi dari ReforMiner Institute, mengatakan kegaduhan mengenai pengembangan Blok Mahakam disebabkan adanya anggapan asing dan nasionalisme yang sengaja dimunculkan. Hal itu ditambah dengan sikap negara yang tidak berani mengambil keputusan terhadap blok yang menghasilkan 30% dari seluruh produksi gas nasional.

Menurutnya, siapapun yang akan menjadi operator di Blok Mahakam nantinya, harus melalui masa transisi dengan bimbingan Total E&P Indonesie yang telah memiliki pengalaman. “Masa transisi dari pengelola lama ke pengelola yang baru ini penting, guna menghindari anjloknya produksi, yang merupakan ancaman bagi penerimaan negara,” ungkapnya.

Dia menilai ada beberapa hal yang dapat dijadikan jalan tengah dalam pengembangan blok migas itu, yakni Total tetap sebagai operator di Blok Mahakam sampai 2022. Kemudian Pertamina ditunjuk pemerintah sebagai operator di Blok Mahakam mulai 2022, sehingga ada rentang masa transisi lima tahun antara 2017-2022.

Selain itu, porsi bagian keuntungan (split) untuk pemerintah juga harus diperbesar secara signifikan. Serta, insentif fiskal lain untuk Total dikurangi, seperti penerapan Domestic Market Obligation (DMO) selama masa produksi, depresiasi dipercepat ditiadakan, investment credit ditiadakan, dan cost recovery dibatasi.

Terkait adanya potensi opportunity loss penerimaan negara, Pri Agung menegaskan hal itu dapat dikompensasikan melalui porsi split untuk pemerintah yang diperbesar, dan pengurangan insentif fiskal lainnya terhadap Total E&P.

 

Pendapatan dari Blok Mahakam 2012

  • Total Pendapatan (gross revenue oil, condensate and gas) Rp106 triliun.

Bagi Hasil :

  • Penerimaan negara sekitar Rp63 triliun,
  • Cost recovery Rp21 triliun
  • Net contractor shares Rp22 triliun (Total dan Inpex).

Perkiraan Pendapatan dari Blok Mahakam 2013 (berdasarkan WP&B)

  • Total Pendapatan (gross revenue oil, condensate and gas) Rp85 triliun.

Bagi Hasil :

  • Penerimaan negara sekitar Rp45 triliun
  • Cost recovery Rp25 triliun
  • Net Contractor Shares Rp15 triliun (Total dan Inpex).

*) Dengan estimasi harga minyak (Brent) US$100 barel dan kurs US$/Rp9500.

Cadangan di Blok Mahakam

  • Cadangan awal, gabungan cadangan terbukti dan cadangan potensial (2P) adalah sebesar 1,68 miliar barel minyak dan gas 21,2 TCF
  • Setelah pengurasan selama 40 tahun, sisa cadangan 2P minyak saat ini sebesar 185 juta barel dan cadangan 2P gas sebesar 5,7 TCF
  • Pada akhir masa kontrak pada 2017 diperkirakan masih menyisakan cadangan 2P minyak sebesar 131 juta barel dan cadangan 2P gas sebanyak 3,8 TCF.
  • Dari jumlah tersebut diperkirakan sisa cadangan terbukti (P1) gas kurang dari 2 TCF.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

prancis gas
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top