Pemompaan Minyak di Tempino Dihentikan, Kilang Tradisional Tutup

Bisnis.com, JAMBI - Puluhan kilang minyak tradisional di Desa Simpang Bayat Kabupaten Musi Banyuasin gulung tikar, karena dihentikannya pemompaan minyak bumi yang melalui pipa Tempino-Plaju.
Lili Sunardi | 02 Agustus 2013 19:04 WIB

Bisnis.com, JAMBI - Puluhan kilang minyak tradisional di Desa Simpang Bayat Kabupaten Musi Banyuasin gulung tikar, karena dihentikannya pemompaan minyak bumi yang melalui pipa Tempino-Plaju.

Kamari, Kepala Desa Simpang Bayat, mengatakan saat ini puluhan kilang minyak tradisional berhenti beroperasi karena dihentikannya pemompaan minyak bumi di pipa yang mengalirkan minyak bumi dari stasiun pusat pemompaan produksi Tempino menuju Kilang Plaju.

“Bisa dilihat apakah ada kilang tradisional yang beroperasi setelah pemompaan dihentikan 25 Juli 2013? Itu karena sebagian besar pasokan mereka berasal dari minyak mentah yang dicuri dari pipa Tempino-Plaju,” katanya di Musi Banyuasin, Jumat (2/8/2013).

Dari pantauan Bisnis, diketahui puluhan kilang minyak tradisional terbengkalai ditinggal pemiliknya. Kilang tersebut merupakan sebuah wilayah yang digunakan masyarakat untuk memasak minyak mentah agar menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, premium dan minyak tanah.

Teknologi yang digunakan pun sangat tradisional, di mana minyak mentah dimasak dengan suhu tertentu dan kemudian disuling menggunakan air. BBM hasil penyulingan itu dialirkan ke dalam sebuah wadah khusus.

Kamari mengungkapkan BBM hasil olahan dari kilang minyak tradisional itu biasanya di pasarkan di Lampung, Sumatera Selatan dan Bangka. Biasanya, konsumen utama BBM dari kilang itu adalah sektor industri.

Menurutnya, pemilik kilang minyak tradisional itu membeli minyak mentah dengan harga Rp400.000 per drum ukuran 200 liter. Sementara itu, hasil olahannya dijual dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan harga jual BBM di stasiun pengisian bahan bakar umum.

“Biasanya harga BBM dari kilang minyak tradisional lebih murah Rp750 per liter dari harga BBM di SPBU,” ungkapnya.

Dari data Pertamina EP diketahui pada periode Januari-Juli 2013, pencurian minyak mentah di pipa Tempino-Plaju telah mengakibatkan kerugian 279.000 barel. Bahkan, pada 22 Juli 2013 pencurian minyak mencapai 52.000 barel dalam 1 hari.

“Kerugian akibat pencurian minyak ini mencapai 1.400 barel per hari, makanya kami mulai menghentikan pemompaan melalui pipa itu sejak 25 Juli 2013. Percuma kami alirkan minyak kalau tingkat kehilangannya 40% dari total minyak yang dialirkan,” kata Wiko Migantoro, Jambi Field Manager Pertamina EP.

Jalur pipa minyak Tempino-Plaju merupakan jalur pipa yang dikelola oleh PT Pertagas, anak perusahaan PT Pertamina (Persero). Pipa itu dioperasikan secara komersial sejak 17 Juli 2013 setelah melalui masa pra dan commissioning sejak 9 Juli 2013.

Jalur pipa tersebut menggantikan pipa lama yang sudah tidak aman untuk dioperasikan karena terlalu banyak mengalami kerusakan akibat aksi illegal tapping yang tidak bisa dikendalikan. Jalur pipa baru Tempino-Plaju dengan panjang aktual 260 km ditanam pada kedalaman 1,5-2 meter di bawah permukaan tanah.

Dengan kapasitas angkut 24.000 barel per hari, jalur pipa baru tersebut semula diharapkan dapat menghentikan aksi penjarahan minyak yang menghubungkan sekitar sembilan sumber minyak menuju Kilang Pertamina Refinery Unit III Plaju.

Tag : pertamina, kilang tradisional, pipa tempino, plaju
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top