Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

ANOMALI CUACA: Produksi Hortikultura Anjlok 90%

BISNIS.COM, BANDUNG—Produksi mangga gendong gincu di Kabupaten Cirebon merosot akibat cuaca ekstrem sejak awal 2013 yang mengakibatkan produktivitasnya anjlok hingga 90%.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 18 Juni 2013  |  17:15 WIB
ANOMALI CUACA: Produksi Hortikultura Anjlok 90%
Bagikan

BISNIS.COM, BANDUNG—Produksi mangga gendong gincu di Kabupaten Cirebon merosot akibat cuaca ekstrem sejak awal 2013 yang mengakibatkan produktivitasnya anjlok hingga 90%.

Ketua Kelompok Tani Ciloa Kabupaten Cirebon Idris mengatakan biasanya produksi gedong gincu dari lahan 1 hektare biasanya menghasilkan 5 ton, tetapi akibat cuaca ekstrem produktivitas hanya 450 kwintal.

“Suhu di Cirebon bisa mencapai 36 derajat celcius, tetapi selang beberapa jam langsung turun hujan sehingga merusak tanaman dan buah,” katanya, Selasa (18/6).

Dia menilai jika cuaca ekstrem berakhir Juli maka petani masih memiliki harapan meraih hasil optimal pada panen raya hingga akhir tahun.

“Kami hanya pasrah karena pengaruh cuaca sangat sulit disiasati dengan teknologi apapun, dan harapannya Juli 2013 cuaca kondusif.”

Direktur Sumber Buah Sae Ahmad Abul Hadi, eskportir buah di Cirebon, mengemukakan produksi gedong gincu dari petani binaannya merosot tajam hingga 75% sejak awal 2012.

“Penurunan bukan hanya pada kuantitas bahkan kualitas pun menurun karena gedong gincu jadi lebih cepat matang dan muncul bintik-bintik hitam pada bagian kulit,” katanya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon Ali Efendi mengatakan cuaca ekstrem memang mengganggu produktivitas gedong gincu.

Menurutnya, 11.000 hektare lahan perkebunan gedong gincu di Kabupaten Cirebon biasanya mampu menghasilkan rata-rata 68,2 juta ton. “Akan tetapi, akibat cuaca ekstrem ini kami masih menghitung penurunan produksi, diperkirakan cukup banyak penurunannya,” katanya.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cirebon mengungkapkan berdasarkan perkiraan cuaca untuk Wilayah Cirebon diperkirakan akan mulai kemarau pada Agustus 2013.

“Kondisi cuaca memang sangat sulit diprediksi karena awalnya kami perkirakan kemarau akan datang lebih cepat sekitar Juni 2013, dan ternyata fenomenanya sangat berbeda,” ujarnya.

Pada perkembangan lain, Kabid Produksi Hortikultura Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bandung Endang Rahmat mengaku hingga kini pihaknya belum merinci jumlah kerugian akibat cuaca ekstrem yang mempengaruhi produksi hortikultura di tingkat petani.

Meski demikian, katanya, pihaknya sudah mensosialisasikan kepada petani agar mereka menggunakan pupuk organik guna menghindari gagal panen.

"Komoditas hortikultura yang gagal panen diprediksi terjadi pada komoditas sayuran daun a.l kubis, sosin, dan sawi," katanya.

Selain itu, pihaknya juga mencatat produksi komoditas hortikultura pada tahun lalu a.l kentang 1.107.934 kuintal, kubis 1.093.258 kuintal, cabe besar 206.820 kuintal, tomat 941.244 kuintal, stroberi 353.420 kuintal, serta bawang merah 208.865 kuintal.

Daerah sentra produksi komoditas sayuran  Kabupaten Bandung terdapat di Kecamatan Cimenyan, Pangalengan, Kertasari, Pacet, Arjasari, Ciwidey, Pasirjambu, dan Rancabali.

Sementara itu, petani cabai rawit di Kota Tasikmalaya mengalami kerugian akibat gagal panen karena terserang virus patek sehingga merusak pada pertumbuhan pohon.

Ketua Gabunagn Kelompok Tani (Gapoktan) Kota Tasikmalaya  Yuyun Suyud mengatakan serangan patek terjadi menjeleng panen.

Virus tersebut sulit diberantas meski menggunakan berbagai pestisida sehingga petani pasrah terhadap serangan virus yang membuat daun cabai rawit berkerut dan bentol-bentol.

“Dari taksiran produksi semula karena terserang patek hanya bisa berproduksi 20%. Petani mengalami gagal panen,” katanya.

Yuyun mengatakan sekitar 5 ha kebun cabai rawit di bawah binanan kelompoknya tersebar di Kota Tasikmalaya.

 

Keran Impor

Secara terpisah, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia(HKTI) Jabar menilai petani mulai terancam dengan dibukanya keran impor hortikultura oleh pemerintah untuk semester II, di tengah perubahan cuaca kemarau basah yang mengakibatkan produksi hortikultura menjadi turun.

Ketua HKTI Jabar Entang Sastraatmadja menilai pilihan impor produk hortikultura oleh pemerintah memang sebagai program tanggap darurat untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Jangan sampai ada niatan untuk terus impor dari luar negeri itu yang tidak boleh terjadi,” katanya.

Dia mengatakan pemerintah seharusnya dapat menganggarkan dana untuk menciptakan teknologi inovasi supaya petani tetap bisa berproduksi dalam menyambut anomali cuaca.

Menurutnya, perubahan inovasi perlu dilakukan dengan menciptakan teknologi untuk mengupayakan petani tetap mempertahankan kapasitas produksinya.

“Dengan menciptakan teknologi dan inovasi perlu digalangkan untuk membuat petani tetap bisa bertahan berproduski pada anomali cuaca ekstrem,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hortikultura anomali cuaca

Sumber : Maman Abdurahman/Adi Ginanjar/ Wandrik Panca Adiguna/Anep Paoji

Editor : Bambang Supriyanto
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top