Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

LELANG SUN: Serapan Dikhawatirkan Masih Rendah

BISNIS.COM, JAKARTA—Serapan penerbitan surat utang negara (SUN) yang digelar pada hari ini (18/6/2013) dikhawatirkan masih rendah.
Hedwi Prihatmoko
Hedwi Prihatmoko - Bisnis.com 18 Juni 2013  |  13:16 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—Serapan penerbitan surat utang negara (SUN) yang digelar pada hari ini (18/6/2013) dikhawatirkan masih rendah.

Lana Soelistianingsih, Ekonom Samuel Sekuritas, mengkhawatirkan pemerintah belum siap dengan permintaan imbal hasil [yield] yang diperkirakan meningkat.

Alhasil, lanjutnya, terdapat kemungkinan serapan dari penerbitan SUN hari ini akan lebih rendah dari target indikatif Rp8 triliun, seperti yang terjadi pada lelang SUN pada Senin (3/6) lalu.

“Minat beli masih tinggi tetapi dengan permintaan imbal hasil yang tinggi juga. Hanya saja jika imbal hasil yang diminta cukup tinggi kemungkinan serapannya masih akan rendah,” tulisnya dalam pesan elektronik kepada Bisnis, Selasa (18/6/2013).

Berdasarkan hasil lelang pada 3 Juni lalu, pemerintah hanya menyerap Rp3,1 triliun dari total penawaran yang masuk sebesar Rp10,29 triliun. Target indikatif yang ditetapkan pada saat itu adalah Rp8 triliun.

Adapun dari penawaran sebesar Rp10,29 triliun yang masuk, permintaan yield berkisar antara 5,2%-5,5% untuk SUN bertenor 5 tahun, 6,64%-7% untuk SUN bertenor 15 tahun, dan 6,91%-7,25% untuk SUN bertenor 20 tahun.

Lana mengakui saat ini yield SUN mulai terlihat menurun dengan makin jelasnya kepastian kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Namun, kejelasan tersebut belum menjadi indikator yang kuat bagi penurunan yield.

“Kalau saja pemerintah sudah mengumumkan kenaikan [harga] BBM sejak dulu, kemungkinan lelang hari ini bisa lebih berhasil,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Danamon Anton Gunawan menilai pemerintah juga perlu mengantisipasi kemungkinan permintaan yield yang lebih tinggi karena adanya revisi target penerbitan surat berharga negara (SBN) yang secara netto bertambah Rp51,36 triliun.

“Kami nilai pemerintah perlu mengakomodasi yield yang lebih tinggi untuk memenuhi target penerbitan SBN yang direvisi,” ungkapnya dalam keterangan pers, Selasa (18/6).

Penerbitan SBN netto pada APBN 2013 semula direncanakan Rp180,44 triliun, tetapi dalam APBN-P 2013, penerbitan SBN netto meningkat menjadi Rp231,8 triliun. Peningkatan penerbitan SBN tersebut disebabkan oleh peningkatan defisit yang semula sebesar 1,65% terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi 2,38% terhadap PDB.

Dalam lelang SUN hari ini, pemerintah mematok target indikatif lelang sebesar Rp8 triliun. Adapun, seri SUN yang dilelang adalah seri SPN12140604 (reopening), seri FR0067 (new issuance), seri FR066 (reopening), seri FR0063 (reopening), dan seri FR0065 (reopening).

Adapun, yield yang ditawarkan untuk seri FR066 (tenor 5 tahun), seri FR0063 (tenor 10 tahun), dan seri FR0065 (tenor 20 tahun), berturut-turut sebesar 5,250%, 5,625%, dan 6,625%.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pdb lelang sun apbn 2013
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top