Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

OBAT & MAKANAN ILEGAL: Peredaran Hingga Mei Bernilai Rp10 miliar

BISNIS.COM, SERANG—Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat nilai produk makanan dan obat yang ilegal dari Januari hingga Mei 2013 telah mencapai Rp10 miliar. Nilai tersebut berasal dari pemusnahan yang dilakukan di beberapa kota di Indonesia.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 23 Mei 2013  |  23:13 WIB

BISNIS.COM, SERANG—Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat nilai produk makanan dan obat yang ilegal dari Januari hingga Mei 2013 telah mencapai Rp10 miliar. Nilai tersebut berasal dari pemusnahan yang dilakukan di beberapa kota di Indonesia.

Kepaka BPOM Lucky S. Slamet mengatakan produk ilegal tersebut terdiri dari obat, obat tradisional, kosmetik, pangan, termasuk bahan bakunya. Di Indonesia terdapat 154.128 produk kosmetik dan makanan yang telah terdaftar di BPOM. Sedangkan produk obat hanya 17.612.

 “Namun, hasil temukan kami adalah di luar itu [produk terdaftar]. Misalnya obat palsu, cuma sedikit sekitar 5%, sedangkan untuk produk pangan lebih besar lagi. Persentase tersebut dihitung dari temuan berdasarkan hasil sampling tiap tahun,” kata Lucky dalam acara Pemusnahan Obat dan Makanan Ilegal, Kamis (23/5)

Dalam temuan di Serang tersebut, BPOM memusnahkan sebanyak 980 kemasan dengan nilai ekonomi Rp2,7 miliar. Rinciannya, terdapat 218.896 kemasan produk kosmetika, 21.461 kemasan obat, 3.081 kemasan jamu, dan 720.107 kemasan makanan.

Dia menambahkan dari tahun ke tahun temuan jumlah kosmetik ilegal semakin banyak. Namun, produk kosmetik yang menggunakan bahan baku berbahaya seperti merkuri semakin menurun. Ini menunjukkan kesadaran produsen semakin baik.

Adapun untuk obat tradisional seperti jamu herbal seharusnya tidak boleh menggunakan bahan kimia obat (BKO). Pelanggaran lain yang sering dilakukan adalah produk yang tanpa dilengkapi ijin edar dan tidak menggunakan Bahasa Indonesia.

 “Jika produk tersebut tidak ada padanan katanya [Bahasa Indonesia], maka diperbolehkan menggunakan bahasa asing. Namun, karena banyak permintaan dari masyarakat, produk tersebut masih banyak ditemukan di pasaran,” ujarnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

makanan obat bpom lucky s slamet
Editor : Ismail Fahmi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top