PLTU CILACAP: Sumber Segara Primadaya Dapat Pinjaman US$700 Juta

BISNIS.COM, JAKARTA--PT Sumber Segara Primadaya (S2P) mendapatkan pinjaman US$700 juta dari China Development Bank Corporation untuk membiayai proyek ekspansi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Cilacap, Jawa Tengah dengan kapasitas 614 megawatt.
Lili Sunardi | 03 April 2013 15:00 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA--PT Sumber Segara Primadaya (S2P) mendapatkan pinjaman US$700 juta dari China Development Bank Corporation untuk membiayai proyek ekspansi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Cilacap, Jawa Tengah dengan kapasitas 614 megawatt.

Muhammad Rasul, Direktur Utama S2P mengatakan pinjaman dari China Development Bank Corporation itu memiliki tenor selama 11 tahun dengan bunga LIBOR+5,3% per tahun. Prosesnya pengajuan pinjaman sendiri hanya memakan waktu 2 bulan tanpa mensyaratkan adanya jaminan dari pemerintah.

“Potensi pembangunan PLTU di dalam negeri memang masih memiliki potensi yang besar dengan pendanaan yang besar. Sayangnya, perbankan nasional masih kurang tertarik memberikan pendanaan untuk proyek pembangkit, karenanya diharapkan pendanaan modal kerja akan didukung oleh BRI,” ujarnya, Rabu (3/4/2013).

Proyek ekspansi PLTU Cilacap itu sendiri rencananya akan di bangun bersebelahan dengan PLTU Cilacap yang telah beroperasi dengan kapasitas 2X281 megawatt di Desa Karangkandri. Nantinya, listrik yang dihasilkan akan disalurkan menuju sistem Jawa-Bali melalui jaringan transmisi 500 kilovolt (kV) dengan panjang 2 kilometer sampai ke gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET) Adipala.

Direktur Keuangan S2P Beni Maturbongs mengatakan proyek tersebut membutuhkan pendanaan sekitar US$900 juta. Selain US$700 juta berasal dari pinjaman China Development Bank Corporation, perusahaan juga menggunakan dana internal dan sumber lainnya hingga mencapai US$200 juta.

Setelah mendapatkan pinjaman tersebut, rencananya perusahaan akan segera melakukan konstruksi pembangunan PLTU dalam waktu 2-3 bulan mendatang. “Konstruksi kami perkirakan akan memakan waktu 36 bulan, sehingga pada 2016 mendatang pembangkit sudah dapat beroperasi,” ungkapnya.

PLTU Cilacap ekspansi ini diprediksi akan menambah suplai listrik ke sistem Jawa-Bali sebesar 4.300 gigawatt hour (GWh) per tahun. Dalam proposalnya, S2P berencana memasang mesin dan peralatan utama buatan China dengan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan dibandingkan dengan PLTU yang sudah beroperasi secara komersial.

Pembangkit itu akan menggunakan supercritical boiler dan Flue Gas Desulphurization (FGD), sehingga menjadikan pembangkit lebih efisien. Sedangkan peralatan utama pembangkit akan menggunakan boiler dari pabrikan Dongfang Electric dan turbin dari pabrikan Shanghai Electric.

Sementara Balance of Plant dari proyek ini akan memasang mesin dan peralatan buatan dalam negeri, Eropa dan Amerika Serikat.

Sebelumnya, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) telah menandatangani perubahan kedua perjanjian pembelian listrik dari PLTU Cilacap dengan S2P. Hal itu dikarenakan perusahaan akan membangun PLTU Cilacap ekspansi yang akan menambah pasokan listrik pada sistem kelistrikan Jawa-Bali.

Sementara itu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik meminta S2P mempercepat pengerjaan PLTU Cilacap ekspansi itu. Pasalnya, saat ini sistem kelistrikan Jawa-Bali sektor selatan masih sangat rentan dan belum sekuat sektor utara di sistem yang sama.

“Sektor selatan dalam sistem kelistrikan Jawa-Bali harus diperkuat, karena konsumsi listrik di wilayah ini terus tumbuh seiring pertumbuhan ekonomi. Makanya, kalau bisa dipercepat pengerjaan ini, karena masyarakat membutuhkan listrik,” ungkapnya.

Kerjasama China Development Bank Corporation dengan S2P itu sendiri merupakan kelanjutan dari serangkaian kerja sama yang dilakukan antara pemerintah dengan negeri tirai bambu itu. sejak 2005 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memang aktif melakukan pembicaraan untuk memperkuat kerja sama di sektor infrastruktur dan industri dasar dengan Pemerintah China.

S2P merupakan perusahaan patungan antara PT Pembangkit Jawa Bali dengan porsi saham 49% dengan PT Sumber Sakti Prima yang memiliki 51% saham. Sejak 2006 lalu, S2P menjadi pengembang listrik swasta (independent power producer/IPP) yang mengembangkan PLTU Cilacap.

 

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top