Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

CADANGAN MINYAK INDONESIA: Terus mengalami penurunan

JAKARTA--Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan cadangan minyak dalam negeri terus mengalami penurunan, karena cadangan minyak yang ditemukan tidak sebesar minyak yang diproduksi.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 30 Januari 2013  |  20:37 WIB

JAKARTA--Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan cadangan minyak dalam negeri terus mengalami penurunan, karena cadangan minyak yang ditemukan tidak sebesar minyak yang diproduksi.

Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini mengatakan pada 2012 rasio cadangan minyak terhadap produksi (reverse replacement ratio/RRR) hanya 52% dari total produksi. Padahal tahun sebelumnya, rasio RRR mencapai 82%.

“Cadangan terbukti pada awal 2012 digemborkan 3,742 miliar metric barel oil (MMBO). Januari ini, perkiraan cadangan turun jadi 3,6 MMBO. Sementara produksinya pada 2012 sebesar 314 MMBO. Pada 2013 kita hanya dapat tambahan cadangan dari POD, POFD dan POP pada 2012 sebesar 164 MMBO.” katanya di Gedung DPR Jakarta, Rabu (30/1/2013).

Sementara rasio cadangan terhadap produksi gas pada 2012 sebesar 127% atau melebihi produksi pada tahun yang sama. Cadangan gas pada 2012 sendiri 103, 44 TSCF, sementara pada awal 2013 cadangan gas diperkirakan naik menjadi 104,25 TSCF.

“Pada 2012 gas yang diproduksi 2,89 TSCF, kemudian pada 2013 cadangan gas dari POD dapat 3,79 TSCF,” jelasnya.

Berdasarkan data SKK Migas sendiri terdapat 119 Wilayah Kerja (WK) eksplorasi yang usianya di atas 3 tahun. Dari jumlah tersebut, 54 WK sedang dalam proses memenuhi komitmen pasti, 42 WK sudah memenuhi komitmen pasti, 18 WK mengalami proses terminasi dan 5 WK belum penuhi komitmen eksplorasi.

"Masalah eksternal masih menjadi kendala utama dalam proses eksplorasi, tumpang tindih perizinan, sosial masyarakat, operasi lapangan sebesar 33%. Adapun masalah internal seperti operatorship, finansial, prioritas holding 24%. Ketersediaan alat dan jasa penunjang 21%, Ketersediaan data geologi dan geoseismik 10% dan kompleksitas bawah permukaan yang memerlukan studi lebih lanjut 8%,” tuturnya.

Sementara itu, Pengamat Energi dari ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan industri hulu migas nasional dalam kondisi darurat, karena terus turunnya produksi minyak.

Produksi minyak saat ini hanya sekitar 836.000 bph dan akan terus turun sepanjang tahun berada pada kisaran 830.000-850.000 bph. Untuk itu pemerintah perlu mengoptimalkan lapangan-lapangan migas yang ada saat ini.

“Apa yang terjadi saat ini adalah buah tata kelola hulu migas yang keliru dan kita pertahankan terus menerus, sehingga iklim investasi untuk kegiatan eksplorasi menjadi sangat tidak menarik,” jelasnya.

Menurutnya, meski saat ini ditemukan suatu lapangan dengan cadangan yang besar, maka hasil produksinya baru akan terlihat paling cepat lima tahun ke depan. Padahal, hingga ini belum ada penemuan cadangan yang lain.(msb)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Lili Sunardi

Editor : Martin-nonaktif

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top