Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INDUSTRI TAMBANG: Pemerintah paksa penerapan DMO

JAKARTA--Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan memaksa perusahaan pertambangan untuk memenuhi kebutuhan bijih mineral dalam negeri, sebelum melakukan ekspor.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 27 Januari 2013  |  16:27 WIB

JAKARTA--Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan memaksa perusahaan pertambangan untuk memenuhi kebutuhan bijih mineral dalam negeri, sebelum melakukan ekspor.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Thamrin Sihite mengatakan upaya memaksa pemenuhan kebutuhan bijih mineral tersebut dilakukan sejalan dengan peningkatan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri.

“Selama ini bijih mineral diekspor karena kebutuhan dalam negeri sudah terpenuhi dan pengolahan, pemurniaannya tidak ada. Sekarang kan kami menggenjot pengolahan dan pemurnian, jadi itu bahan bakunya harus dipenuhi dulu,” katanya di Jakarta, Minggu (27/1/2013)

Thamrin mengungkapkan pemerintah akan menjamin ketersedian bahan baku untuk pabrik pengolahan dan pemurnian di dalam negeri. Dengan demikian, para investor tidak lagi perlu khawatir dalam membangun pabriknya untuk menyukseskan program pemerintah yang diamanatkan Undang-Undang (UU) No. /2009 itu.

Thamrin mencontohkan saat ini pemerintah mendorong Nusantara Smelting dan Indosmelt sebagai pusat pengolahan dan pemurnian tembaga. Nantinya, pemerintah akan berupaya agar PT Freeport Indonesia mau memberikan bahan baku berupa konsentrat untuk diolah menjadi anoda yang juga bahan baku pembuatan kabel.

Selain itu, Thamrin juga menjelaskan kebijakan pelarangan ekspor bijih mineral yang akan dilaksanakan tahun depan sejalan dengan kebijakan pemerintah di sektor hilir pertambangan, seperti mengambil alih Inalum. Dengan pelarangan ekspor itu, Thamrim optimistis dapat memenuhi kebutuhan bauksit untuk Inalum hingga 50 tahun mendatang.

“Cadangan bauksit di dalam negeri sangat besar dan tersebar di Kalimantan Barat dan Riau. Ini bisa menyuplai bauksit untuk dimurnikan menjadi alumina hingga 50 tahun kalau Inalum nantinya diambil alih,” jelasnya.

Selama ini, perusahaan pertambangan dalam negeri selalu mengekspor bauksit, tetapi kemudian mengimpor alumina untuk diolah menjadi alumunium. “Selama ini kan lucu, mengekspor bahan baku, kemudian membeli bahan baku setengah jadi dan diolah menjadi bahan jadi di dalam negeri,” ungkapnya.(msb)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Lili Sunardi

Editor : Martin-nonaktif

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top