Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

DEFISIT NERACA KEUANGAN: Genjot penerimaan pajak & non pajak, pemerintah andalkan sektor perdagangan

JAKARTA: Pemerintah berkomitmen meningkatkan pendapatan dari sisi pajak dan non pajak sebagai upaya mengatasi defisit keseimbangan primer pada neraca keuangan negara."Pendapatan harus kita tingkatkan. Itulah cara kita mengatasi defisit primer kita,"
News Editor
News Editor - Bisnis.com 23 Januari 2013  |  18:49 WIB

JAKARTA: Pemerintah berkomitmen meningkatkan pendapatan dari sisi pajak dan non pajak sebagai upaya mengatasi defisit keseimbangan primer pada neraca keuangan negara.

"Pendapatan harus kita tingkatkan. Itulah cara kita mengatasi defisit primer kita," ujar Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa usai menghadiri Rapat Terbatas dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Kepresidenan, Rabu (23/1).

Dari sisi non pajak, pemerintah akan meningkatkan pendapatan melalui sektor perdagangan, baik perdagangan minyak dan gas (migas) maupun perdagangan non migas.

"Perdagangan adalah salah  satu. Kedua saya kira dari sisi pajak. Itu harus ditingkatkan. Pajak itu kan bukan hanya yang ada saja. Bisa diperluas," katanya.

Namun demikian, Hatta enggan menjelaskan perluasan pajak tersebut apakah mencakup sektor informal atau tidak. "Harus hati-hati soal itu."

Selain meningkatkan pendapatan, ujar Hatta, pemerintah juga harus terus melakukan penghematan besar-besaran.

Antara lain dengan pengendalian bahan bakar minyak (bbm) bersubsidi dan dengan mengurangi belanja barang yang tidak terlalu penting, seperti membangun gedung, membeli kendaraan, dan sebagainya.

"Ketiga adalah large spending [pengeluaran besar] dari belanja pegawai. Itu makanya harus kita cut [pankas] juga." 

Hatta menjelaskan defisit keseimbangan primer antara lain disebabkan pendapatan negara lebih rendah dibandingkan dengan belanja negara dikurangi beban bunga. Pendapatan negara lebih rendah karena ekspor yang lebih rendah dibandingkan impor.

Di sisi lain, ujarnya, pendapatan negara dari minyak tergolong rendah. Sementara itu, belanja negara ikut bertambah akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (bbm).

"Sekarang kita tahu apa yang harus kita kendalikan supaya belanja kita itu harus betul-betul efektif, tepat sasaran, dan kita kendalikan," katanya. (arh)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Anggi Oktarinda

Editor : Aprika Rani Hernanda

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top