Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BOEING 787 DREAMLINER: Belum ada permintaan validasi ke Kemenhub

JAKARTA- Kementerian Perhubungan menyatakan hingga kini belum ada maskapai Tanah Air yang mengajukan permintaan validasi kedatangan pesawat Boeing 787 Dreamliner meski Lion Air sudah melakukan kontrak pembelian lima unit pesawat super jumbo ini.Kepala
- Bisnis.com 20 Januari 2013  |  22:08 WIB

JAKARTA- Kementerian Perhubungan menyatakan hingga kini belum ada maskapai Tanah Air yang mengajukan permintaan validasi kedatangan pesawat Boeing 787 Dreamliner meski Lion Air sudah melakukan kontrak pembelian lima unit pesawat super jumbo ini.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan Bambang S. Ervan mengatakan belum ada maskapai nasional termasuk Lion Air yang mengajukan permohonan validasi sertifikat pesawat Boeing 787 Dreamliner. Validasi ini merupakan kewajiban untuk mendatangkan pesawat ke Indonesia dari pabrikannya.

“Belum ada pengajuan validasi Boeing 787, yang ada validasi untuk Boeing 777 yakni oleh Garuda Indonesia,” kata Bambang kepada Bisnis, Minggu (20/1/2013).

Pernyataan Bambang ini terkait dengan adanya surat dari otoritas penerbangan sipil Amerika Serikat, Federal Aviation Administration (FAA) yang menyatakan pesawat Boeing 787 Dreamliner harus dikandangkan selama pemeriksaan keselamatan dilakukan terhadap baterai ion lithium.

Maskapai Lion Air telah melakukan kontrak pembelian lima unit Boeing 787 Dreamnier dari pabrikan asal AS ini senilai total US$967,5 juta, dan baru akan tiba pada 2014 secara bertahap.

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengatakan pembelian lima unit pesawat berbadan super jumbo ini untuk maskapai Batik Air, maskapai barunya yang akan mulai beroperasi pada Maret 2013.

Sayangnya, Edward enggan berkomentar soal status pesanan Boeing 787 pasca adanya temuan kerusakan di badan pesawat berbadan besar ini.

Menurut Bambang, jika nantinya Lion Air akan mendatangkan Boeing 787, maskapai ini harus mengajukan validasi sertifikasi pesawat ini kepada Kemenhub. Selain itu juga harus menyertakan keterangan dalam service bulletin yang dikeluarkan pabrikan Boeing Company, khususnya mengenai baterai ion lithium yang tengah dipermasalahkan saat ini.

Menurut Bloomberg, pabrikan Boeing Company telah menghentikan pengiriman pesawat B787 Dreamliner hingga FAA memberikan persetujuan kelayakan terbang terutama menyangkut baterai ion lithium yang mudah terbakar.

Penghentian pengiriman pesawat Boeing 787 ini dampak dari larangan terbang atau grounded FAA pada 16 Januari yang diikuti oleh regulator di seluruh dunia, sehingga mempengaruhi sekitar 50 pesawat yang harusnya sudah dikirim ke maskapai pemesan di sejumlah negara.

“Pihak berwenang tidak akan mengizinkan Boeing mengirimkan pesanan sampai mereka yakin 1.000%  bahwa pesawat aman,” kata Menteri Transportasi Amerika Serikat Ray LaHood, yang mengawasi lembaga FAA, seperti dikutip Bloomberg.

LaHood mengatakan pesawat B787  akan menjalani peninjauan keamanan oleh FAA. Selama peninjauan ini, pesawat super jumbo ini tidak  boleh terbang dulu.

Larangan terbang dari FAA ini setelah pendaratan darurat dengan pesawat B787 oleh All Nippon Airways Co (ANA) pada penerbangan domestik di Jepang pada 15 Januari 2013. Mendarat darurat ini karena keluarnya peringatan masalah baterai. Sebelumnya masalah serupa sudah pernah dilakukan penyelidikan kebakaran baterai pada Japan Airlines Co yang terjadi pada 7 Januari di Boston yang membutuhkan 40 menit untuk memadamkan api. (Bsi)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Bastanul Siregar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top