Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

EKSPLORASI TAMBANG: Sejumlah KKKS alami rugi besar

JAKARTA--Sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) mengalami kerugian US$2,4 miliar pada periode 2009-2012 karena sumur eksplorasi yang dikelolanya dianggap tidak memberikan hasil.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 Januari 2013  |  20:22 WIB

JAKARTA--Sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) mengalami kerugian US$2,4 miliar pada periode 2009-2012 karena sumur eksplorasi yang dikelolanya dianggap tidak memberikan hasil.

Deputi Pengendalian Operasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan gas Bumi (SKK Migas) Gde Pradyana mengatakan total kerugian US$2,4 miliar yang dialami KKKS hanya berasal dari biaya pengeboran sumur saja. Padahal sebelum mengebor sumur, KKKS melakukan kegiatan seismic.

“Kerugian karena kegagalan itu disebut sunk cost. Terkadang daripada bilang dry, mereka lebih memilih menggunakan istilah uneconomic carbon lead dan kandungan minyaknya tidak kering-kering amat,” katanya di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (16/1/2013).

Gde mengungkapkan sunk cost dapat muncul karena teknik pengeboran yang dilakukan tidak tepat. Misalnya proyek IDD Chevron di Maha Gendalo dan Gendang yang semula dianggap tidak menghasilkan saat dikelola oleh Exxon.

Meski demikian, Gde juga menegaskan success ratio pengeboran di dalam negeri masih tergolong bagus karena ada di sekitar 30%-40%. “Success ratio 30%-40% itu sudah bagus. Di tempat lain itu hanya 10%-20%, di Teluk Meksiko hanya 20%, tapi di Timur Tengah memang 70%-80% pasti berhasil,” jelasnya.(msb)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Lili Sunardi

Editor : Martin-nonaktif

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top