Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

APBN 2013: Kemen ESDM bersiap ajukan revisi lifting minyak

News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 Januari 2013  |  17:55 WIB
JAKARTA--Kementerian Energi dan Sumber Daya Energi berniat mengajukan revisi asumsi produksi minyak mentah siap jual (lifting) dalam anggaran pendapatan dan belanja (APBN) perubahan 2013.
 
Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo mengatakan minimnya investasi untuk eksplorasi lapangan minyak membuat kementeriannya pesimistis target produksi minyak sebanyak 900.000 barel per hari. Untuk itu pihaknya berencana mengajukan revisi lifting dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) perubahan 2013.
 
"Dalam APBN perubahan nanti akan kita sampaikan [revisi], mudah-mudahan karena ini kan masih Januari 2013. Daripada kami pakai angka yang tidak benar, ya kami juga realistis saja," katanya di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (16/1).
 
Revisi tersebut nantinya juga akan melihat perkembangan produksi minyak di sejumlah wilayah kerja kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Menurutnya, saat ini Kementerian ESDM memperkirakan lifting minyak sebesar plus minus 10% dari target yang telah dicantumkan dalam APBN 2013 sebesar 900.000 barel per hari.
 
Menurtnya, kondisi sumur minyak dalam negeri yang sudah tua juga menjadi salah satu faktor menurunnya produksi minyak saat ini. "Ada sumur minyak yang hanya memproduksi 2 barel minyak dari 100 barel cairan yang diolah. Itu karena memang sumur minyak yang ada di dalam negeri sudah banyak yang tua," jelasnya.
 
Meski demikian, pemerintah akan menggenjot produksi gas bumi untuk mengkompensasi tidak tercapainya target lifting minyak. Selain itu pemerintah juga akan lebih mengutamakan peningkatan penerimaan negara dari sektor migas dibandingkan peningkatan produksi migas.
 
Sementara itu Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini mengatakan 2013 merupakan tahun sulit bagi industri migas. Pasalnya industri migas adalah industri jangka panjang yang hasilnya baru dapat dinikmati 5-10 tahun mendatang.
 
"Apa yang ada saat ini sudah direncanakan 5-10 tahun lalu. Yang sekarang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan penggunaan alat dengan good engineering practice," jelasnya.
 
Rudi mengungkapkan target 900.000 barel per hari merupakan acuan yang harus dikejar, sehingga tidak perlu mempersoalkan apakah nantinya target tersebut tercapai atau tidak. Pasalnya, sebagian besar KKKS telah bekerja optimal untuk memenuhi target produksi yang telah diserahkan kepada pemerintah.
 
Dia juga mengungkapkan akan meminta target produksi minyak diturunkan menjadi 850 barel per hari. Pasalnya, target penerimaan sebesar 900.000 barel per hari yang telah ditetapkan saat ini dianggap terlalu tinggi dan sulit dicapai.
(faa)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Lili Sunardi

Editor : Fahmi Achmad

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top