Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

SWASEMBADA GULA: Tak ada terobosan, Sulit Terwujud 2014

SEMARANG - Progam pemerintah untuk mewujudkan swasembada gula pada  2014 bakal terancam gagal, akibat tidak ada upaya perluasan lahan tebu dan percepatan terhadap revitalisasi sejumlah pabrik gula (PG) yang kini sebagian mulai tersendat produksinya. Dirut
Rachmat Sujianto
Rachmat Sujianto - Bisnis.com 15 Januari 2013  |  14:47 WIB

SEMARANG - Progam pemerintah untuk mewujudkan swasembada gula pada  2014 bakal terancam gagal, akibat tidak ada upaya perluasan lahan tebu dan percepatan terhadap revitalisasi sejumlah pabrik gula (PG) yang kini sebagian mulai tersendat produksinya.
 
Dirut PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro mengatakan untuk mencapai swasembada gula 2014, kurang lebih memerlukan gula sebanyak 3 jutaan ton untuk gula konsumsi.


Produksi Pabrik Gula (PG) BUMN dan swasta saat ini sudah bisa mencapai 2 jutaan ton, sehingga masih membutuhkan sekitar 1 jutaan gula.
 
Selain itu, lanjutnya, kebutuhan lahan tebu mencapai seluas 300.000 sampai 500.000 hektare, guna menjamin pasokan bahan baku untuk sejumlah PG, bahkan revitalisasi industri gulapun kini membutuhkan lahan sedikitnya 350.000 hektare, sedangkan aktivitas perluasan lahan tebu yang dilakukan pemerintah hingga dua tahun terakhir ini juga belum terlihat.
 
"Upaya mewujudkan swasembada gula 2014 dipastikan semakin sulit dan jauh dari mimpi, mengingat masalah terbesar upaya perluasan lahan tebu tidak pernah dilakukan, bahkan perizinan lahanpun yang diajukan BUMN juga terus dipersulit," ujarnya kepada Bisnis di Semarang Selasa (15/1).

Berdasarkan  revisi roadmap  Kementerian Pertanian menetapkan target swasembada gula pada 2014 turun menjadi 3,1 juta ton dari semula sebesar 5,7 juta ton.

Swasembada itu akan diperoleh dari PG yang ada sebanyak 2,57 juta ton, 1,32 juta ton dari pabrik gula Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan 1 juta ton pabrik gula swasta.

Selain itu, juga harus ada tambahan gula dari pembangunan 10-25 pabrik gula baru sebanyak 2,13 juta ton.

BUMN pun kini semakin pesimistis mampu memenuhi produksi untuk mencapai target swasembada gula pada 2014 sebesar 3,1 juta ton, akibat tersendatnya pasokan bahan baku tebu petani yang terus menurun dan tidak stabil, begitu juga izin impor raw sugar kian dibatasi.
 
Badan usaha itu di antaranya PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II), PTPN VII, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Manajemen perseroan mengatakan target produksi yang ditetapkan pemerintah sulit tercapai karena banyak masalah mulai dari masalah lahan sampai cuaca.
 
Ismet mengatakan RNI kini mengelola sebanyak 10 PG mencakup 4 PG berada di Jawa Timur, 1 PG Yogyakarta  dan 5 PG di Jawa Barat dengan total produksi sepanjang 2012 mencapai 168.000 ton dan tahun ini ditargetkan naik menjadi 170.000 ton.
 
Namun, dia menambahkan kendala utama yang masih dihadapi permasalahan kepengurusan perizinan untuk mengembangkan lahan tebunya, baik di P Jawa maupun luar Jawa, bahkan birokrasi yang masih sangat panjang, meski perseroan ini tidak bermasalah dalam mendirikan pabrik gula baru di luar pulau Jawa.
 
"Untuk mengurus lahan di Kementerian Kehutanan birokasinya panjang sudah lebih 2,5 tahun belum tentu kita dapat lahan tebu baru . Kalau swasta lebih gampang untuk mengurus izin lahan tebu, kalau kita (BUMN) lebih lama," tuturnya.

Sementara sejumlah PG yang tersebar di berbagai daerah, termasuk di Jateng terdapat beberapa di antaranya tidak pernah membukukan laba dan cenderung terus merugi, bahkan akhirnya menghentikan produksi hingga tidak beroperasi lagi.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jateng Fatchuddin Rosyidi mengatakan  saat ini di Jateng terdapat delapan PG dan sebagian di antaranya sudah tidak beroperasi lagi akibat merugi, sedangkan lainnya masih berupaya bertahan.

“Banyak kendala yang dialami sejumlah PG, selain terpuruknya harga gula juga kurangnya bahan baku gula dari tebu produksi petani, menciutnya lahan tebu serta mesin-mesin PG yang usianya sudah tua,” ujarnya.

Menurutnya, mesin yang dimiliki sejumlah PG umumnya sudah berusia tua yang merupakan peninggalan zaman kolonial dan kini sudah tidak efisien serta produksi mereka juga tidak maksimal terus menurun.

Kondisi itu, lanjutnya, yang mengakibatkan beberapa PG mengalami kerugian dengan nilai bervariasi antara Rp10 miliar, Rp20 miliar hingga tertinggi Rp60 miliar. Kerugian semakin  besar setelah keran impor gula dibuka penuh dan menyiutnya lahan tebu.

Sekda Provinsi Jateng Hadi Prabowo mengakui banyak kendala yang menghadang upaya swasembada gula hingga terwujud pada 2014, di antaranya pada saat penamaman dan ketika produksi.

”Kendala saat penanaman, misalnya dalam pemenuhan bahan baku tebu masih terhambat pada keterbatasan areal lahan serta kualitas bibit masih kurang memadai, sedangkan ketika produksi pada sejumlah PG terjadi kinerja manajemen yang belum optimal,” tuturnya.

Ketidak optimalan kinerja pabrik gula, lanjutnya, banyak disebabkan karena mereka masih memanfaatkan mesin-mesin peninggalan tua era kolonial.

Seharusnya satu pabrik gula sebenarnya cukup menggunakan satu mesin boiler produk terbaru, tetapi saat ini mereka masih menggunakan 13 unit mesin yang sudah uzur, sehingga tidak efisien dan kapasitas produksinya menjadi menurun. (Bsi)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Bastanul Siregar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top