Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BALI TOURISM: Stakeholder Pariwisata Keluhkan Penurunan Okupansi

DENPASAR—Para pemangku kepentingan pariwisata di Bali mengeluhkan penurunan tingkat okupansi hotel dibanding tahun-tahun sebelumnya karena faktor berkurangnya lama tinggal wisatawan dan jumlah kamar terus meningkat.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 15 Januari 2013  |  20:14 WIB

DENPASAR—Para pemangku kepentingan pariwisata di Bali mengeluhkan penurunan tingkat okupansi hotel dibanding tahun-tahun sebelumnya karena faktor berkurangnya lama tinggal wisatawan dan jumlah kamar terus meningkat.

Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, mengatakan kunjungan wisatawan tidak diikuti dengan meningkatnya tingkat hunian ini disebabkan menurunnya length of stay atau lama tinggal dan jumlah kamar yang meningkat sehingga supply dan demand tidak seimbang.

“Lama tinggal wisatawan sekarang turun menjadi sekitar 2,9 hari saja dulunya bisa sampai 10-14 hari dikarenakan mereka [wisatawan] mulai jenuh dengan pariwisata Bali dan maraknya paket Bali and Beyond seperti baliho daerah di luar Bali yang ada di bandara,” paparnya dalam Diskusi Selasa Pariwisata, Selasa (15/1/2013).

Menurutnya dengan adanya promosi Bali and Beyond wisatawan lama tinggalnya berkurang mungkin tadinya lima hari hanya dua hari di Bali dan kurang gencarnya promosi karena Bali belum dibentuk Badan Promosi Pariwisata Daerah.

“Jika sudah ada sangat efektif apalagi untuk mempromosikan ke luar negeri karena promosi tidak boleh mati dan cenderung masih lemah serta diharapkan semakin banyak penerbangan langsung ke Bali dari Eropa,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, jumlah kamar meningkat karena adanya pergeseran bisnis jasa ke bisnis properti. Ia mencontohkan  kebijakan di Eropa jika suatu usaha akan bangkrut mereka bisa membawa uang atau modalnya untuk di bawa ke Bali.

“Ini sangat mengkhawatirkan karena mereka melihat pertumbuhan ekonomi di Indonesia sehat dan bisa saja mereka membuka bisnis di Bali seperti membangun apartemen atau kondotel karena market Bali masih luas,” paparnya.

Ia melanjutkan imbauan moratorium yang sudah dilakukan oleh pemerintah selama ini harusnya di cek kembali, mana pasar yang sudah jenuh baik hotel bintang satu sampai lima.

“Jika moratorium tidak mempan, maka harus ada upaya lain seperti membangun kawasan bukan pembangunan akomodasi yang justru menghancurkan sektor pariwisata.”

I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, Ketua PHRI Badung, mengatakan bertambahnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara hanya bertambah satu angka sedangkan jumlah akomodasi bertambah dua angka.

“Prediksi tingkat hunian hotel pada 2012 regional Bali hanya 65% atau turun sekitar 15% jika dibandingkan dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya dan 10 tahun ke depan Bali bisa punya maskapai sendiri untuk bisa mendatangkan wisatawan,” tandasnya.(ems) (Foto: YPS)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Steffi Novita Purba

Editor : Ema Sukarelawanto

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top