Operasi moneter, BI optimalkan sumber lain dari surat utang

BALIKPAPAN:  Bank Indonesia mengoptimalkan sumber lain dari Surat Berharga Negara (SBN) untuk melaksanakan operasi moneter dalam menyerap ekses likuiditas yang ada di masyarakat.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 Desember 2012  |  18:57 WIB

BALIKPAPAN:  Bank Indonesia mengoptimalkan sumber lain dari Surat Berharga Negara (SBN) untuk melaksanakan operasi moneter dalam menyerap ekses likuiditas yang ada di masyarakat.

Salah satu sumber SBN yang diharapkan bisa dimanfaatkan oleh Bank Indonesia yakni Surat Utang Pemerintah (SUP) seri SU-002, SU-004 dan SU-007. Direktur Eksekutif BI yang juga Kepala Departemen Manajemen Moneter BI Hendar mengatakan pemanfaatan SUP tersebut berpotensi menambah rasio SBN tanpa harus menyerap dari pasar sekunder.

“Saat ini, dalam pembahasan di Kementerian Keuangan. Selanjutnya, dibawa ke Presiden dan diteruskan ke DPR untuk memeroleh persetujuan,” ujarnya, Sabtu (15/12).

Hendar menyebutkan penyerapan SUP akan dilakukan secara bertahap sekitar 4 tahun setelah diperoleh persetujuan dari DPR. Pengendalian suku bunga pasar uang pada kisaran yang dikehendaki melalui operasi moneter menjadi salah satu tujuan BI melakukan aktifitas moneter ini.

BI memang terus berupaya untuk menggeser kecenderungan penggunaan instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dalam operasi moneter menjadi SBN sejak 2009. Hingga 12 Desember 2012, total SBN yang dimiliki bank sentral telah mencapai Rp87 triliun.

Adapun penggunaan SBI sebagai instrumen dalam operasi moneter sudha menurun karena jumlahnya hanya Rp68,9 triliun. Sementara, untuk term deposit jumlahnya lebih besar mencapai Rp172,2 triliun karena menjadi instrumen peralihan dari SBI menuju SBN.

Apabila konversi tersebut jadi dilaksanakan maka bank sentral tidak perlu lagi menghimpun SBN yang ada di pasar. Berdasarkan catatan Bisnis, konversi tersebut masih dibahas oleh Kementerian Keuangan termasuk menghitung dampak dari konversi yang meliputi beban bunga yang akan ditanggung oleh pemerintah

Hendar mengaku tidak bisa memerkirakan lama waktu peralihan dari penggunaan SBI menjadi SBN dalam operasi moneter karena pihaknya perlu memertimbangkan semua aspek kebijakan moneter. Ketika pihaknya terlalu aktif, nantinya SBN akan menjadi over liquid dan menjadi terlalu mahal dan langka sehingga tidak menarik bagi investor. (arh)

 

 

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Rachmad Subiyanto

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top