PERLAMBATAN EKSPOR: Diversifikasi Masih Sulit

JAKARTA—Indonesia masih sulit melakukan diversifikasi pasar ekspor karena lemahnya daya saing produk dalam negeri. Komite Ekonomi Nasional memrediksikan masih butuh waktu 5-10 tahun lagi untuk mengoptimalkan hal tersebut.Anggota Komite Ekonomi
News Editor
News Editor - Bisnis.com 11 Desember 2012  |  18:12 WIB

JAKARTA—Indonesia masih sulit melakukan diversifikasi pasar ekspor karena lemahnya daya saing produk dalam negeri. Komite Ekonomi Nasional memrediksikan masih butuh waktu 5-10 tahun lagi untuk mengoptimalkan hal tersebut.Anggota Komite Ekonomi Nasional Sandiaga S. Uno mengatakan lemahnya permintaan ekspor dari Amerika Serikat dan Eropa menuntut Indonesia harus melakukan diversifikasi untuk beralih ke pasar ekspor non tradisional. Sayangnya, produk dalam negeri masih belum memiliki daya saing yang kuat.“Upaya diversifikasi memang dibutuhkan untuk merespon lemahnya permintaan ekspor dari Amerika Serikat dan Eropa akibat suramnya keadaan perekonomian global. Namun, daya saing kita masih belum kuat,” kata Sandiaga kepada Bisnis, Selasa (11/12).Sandiaga meminta pemerintah fokus untuk memperkuat kekuatan domestik ekonomi, melihat dari prospek ekspor yang suram pada tahun depan. Dia merinci beberapa pembenahan yang dilakukan a.l. infrastruktur, human capital, serta reformasi khususnya di bidang ketenagakerjaan dan birokrasi.Dia menilai keadaan ekspor Indonesia yang tidak akan tumbuh pada tahun depan menuntut pengusaha harus meningkatkan daya saing karena harus mampu menembus pasar non tradisional.“[Nilai ekspor] Saya rasa jelas tidak akan bertumbuh pada tahun depan, paling bagus hanya 0,2%. Hal ini melihat keadaan global yang masih suram. Eropa juga terlihat belum ada perbaikan,” ujar Sandiaga.Secara terpisah, pengamat ekonomi Aviliani menilai sampai saat ini belum terjadi perbaikan yang signifikan dalam pasar ekspor nontradisional. Dia mengatakan ada banyak potensi pasar lain yang belum digarap oleh pemerintah.“Saat akan menggarap, kita harus tahu karakteristik mereka [negara tujuan ekspor], sehingga dibutuhkan lagi perubahan untuk memenuhi persyaratan produk. Pengusaha saat ini belum mengarah ke sana,” kata Aviliani.Menurutnya, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) atau Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) perlu mulai menjalin kerja sama dengan pasar potensial baru, selain negara di kawasan Timur Tengah. Dia mencontohkan pasar potensial lain a.l. Meksiko, kawasan Amerika Selatan, atau Afrika.Pemerintah mematok target diversifikasi pada 2014, tetapi Aviliani berpendapat kemungkinan dibutuhkan 5-10 tahun lagi untuk mencapai target tersebut. Industri dalam negeri masih membutuhkan intermediate good.“Permasalahannya bukan gak mau [ekspor] tetapi barangnya memang yang gak ada,” ungkapnya.Kemudian, kata Aviliani, Indonesia dinilai belum mempunyai brand yang mampu untuk bersaing dengan pasar glogal. Sehingga untuk mempromosikan produk dalam negeri ke pasar non tradisional juga semakin sulit. “Untuk mendapatkan nilai tambah itu tidak mudah. Perbaikan ini juga masih butuh effort yang tinggi dari pemerintah untuk go internasional dari segi brand,” pungkasnya. (Bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Rio Sandy P.

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top