Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

DEFISIT ANGGARAN: BANK DUNIA Ingatkan Pentingnya Penyesuaian Harga BBM BERSUBSIDI

JAKARTA: Jika harga minyak dunia terus meningkat dan pemerintah tidak menyesuaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi, defisit anggaran diperkirakan akan mencapai 3,1% dari Produk Domestik Bruto.
Erlan Imran
Erlan Imran - Bisnis.com 23 Mei 2012  |  16:16 WIB

JAKARTA: Jika harga minyak dunia terus meningkat dan pemerintah tidak menyesuaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi, defisit anggaran diperkirakan akan mencapai 3,1% dari Produk Domestik Bruto.

 

Laporan Bank Dunia menyebutkan defisit anggaran diprediksi sekitar 2,5% terhadap PDB jika pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi pada kuartal III/2012 karena Indonesia Crude Price (ICP) melebihi deviasi 15% dari asumsi US$105 per barel.

 

“Kondisi defisit anggaran [Indonesia] akan sangat bergantung pada penyesuaian harga BBM bersubsidi yang disesuaikan dengan perkembangan harga minyak mentah dunia,” ujar Ekonom Bank Dunia Ashley Taylor di Jakarta, hari ini.

 

Dia menilai pertumbuhan defisit anggaran terhadap PDB sudah cukup rendah saat ini. Kendati demikian, pembengkakan subsidi energi yang berlebih akan mengurangi anggaran belanja publik di sektor lain.

 

Menurutnya, meskipun rasio utang terbilang rendah, pencapaian defisit yang melebihi batas 3% dari PDB akan dapat memicu pengetatan pengeluaran di area utama pembangunan. Hal ini, tentu akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, dia mengimbau pemerintah melakukan berbagai upaya pengendalian konsumsi BBM dengan langkah yang tepat.

 

“Masalah subsidi energi mungkin tidak berpengaruh banyak pada risiko fiskal, tapi sebenarnya yang terpenting anggaran harus dialokasikan pada pos-pos yang produktif,” ujarnya.

 

Ashley memproyeksikan pertumbuhan ekonomi  akan berada di kisaran 6,1% tahun ini, lebih rendah dari asumsi makro pemerintah dalam Undang-undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2012 yang sebesar 6,5%.

 

“Kondisi ekonomi domestik akan dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi global yang belum juga mereda. Kendati demikian, upaya peningkatan infastruktur yang baik dan penanggulangan kemiskinan akan mendorong pertumbuhan ekonomi 2013 rebound di level 6,4%,” jelasnya. (yus)

BERITA FINANSIAL PILIHAN:


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : David Eka Issetiabudi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top