Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PRODUKSI MIGAS: Laju penurunan ditekan dari -4% jadi +1%

JAKARTA: Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) optimistis bisa mencapai target lifting minyak dan gas tahun depan dengan menahan laju penurunan produksi (natural decline) dari minus 4% menjadi positif 1%.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 20 Mei 2012  |  07:02 WIB

JAKARTA: Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) optimistis bisa mencapai target lifting minyak dan gas tahun depan dengan menahan laju penurunan produksi (natural decline) dari minus 4% menjadi positif 1%.

 

Sebelumnya, Menteri Keuangan telah mematok harga minyak mentah Indonesia (ICP) di kisaran US$100—120 per barel, lifting minyak 910.000—940.000 barel per hari.

 

Sementara itu dan lifting gas 1.290—1.360 MBOEPD (ribu barel ekuivalen minyak per hari) dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal 2013.

 

Deputi Pengendalian Operasi BP Migas Rudi Rubiandini melihat angka tersebut sebagai target minimum dan maksimum, yakni target minimum migas 2.200 MBOEPD, terdiri atas minyak 910.000 bph dan gas 1.290 MBOEPD.

 

Adapun, target maksimumnya 2.300 MBOEPD, terdiri dari minyak 940.000 bph dan gas 1.360 MBOEPD.

 

“Kisaran 2.200—2.300 MBOEPD tersebut masuk dalam target 2013 yang sudah dicanangkan BP Migas sebesar 2.220—2.240 MBOEPD,” ujarnya kepada Bisnis, Sabtu 19 Mei 2012.

 

Rudi mengatakan angka yang diperoleh BP Migas itu adalah hasil optimasi dari target seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang hanya sebesar 2.200 MBOEPD.

 

“Jadi bila pemerintah mencanangkan 2.200—2.300 MBOEPD, saya kira masuk akal dan bisa dicapai,” tegasnya.

 

Rudi menjelaskan BP Migas saat ini sedang melakukan setidaknya tiga hal. Pertama adalah mengusahakan untuk mempercepat terselesaikannya (onstream) beberapa proyek.

 

Kedua, mengurangi gangguan operasi sehingga kegagalan produksi terjadi seminim mungkin. Ketiga, membuat terobosan dalam pelaksanaan EOR (enhance oil recovery) sehingga ada peningkatan persen perolehan migas.

 

“Dengan usaha-usaha tersebut diharapkan pada 2013 tidak ada lagi penurunan produksi seperti tahun-tahun sebelumnya sekitar minus 4%, bahkan diharapkan bukan hanya menjadi 0% tapi bisa sampai positif 1%,” ujarnya.

 

Seperti diketahui, laju penurunan produksi minyak secara alamiah atau natural decline di Indonesia dalam 4 tahun terakhir turun 14% setahun, namun kini bisa ditekan hingga rata-rata turun 4% setahun.

 

Rudi menambahkan jika tahun ini diperkirakan rata-rata produksi tahunan sebesar 890.000 bph, maka tahun depan bisa menjadi 900.000 bph. Namun jika tahun ini rata-rata produksi 900.000 bph, maka tahun depan bisa mencapai 910.000 bph.

 

“Sehingga target pemerintah untuk minyak sebesar 910.000—940.000 bph dapat tercapai,” ujarnya.

 

Penurunan produksi

Sejak 1996 pada saat puncak produksi minyak sebesar 1,6 juta bph, kini pada April 2012 produksi minyak tinggal 890.000 bph. Sejak 2003 Indonesia mundur dari keanggotaan OPEC karena situasinya sudah menjadi Net Importir Minyak, seiring dengan terus meningkatnya kebutuhan dalam negeri sementara produksi tidak bisa ditahan, terus meluncur turun.

 

Produksi dari KKKS terbesar di Indonesia yakni Chevron Pacific Indonesia (CPI) yang dulu bisa mencapai 1 juta bph, kini tinggal sepertiganya yakni hanya 350.000 bph.

 

Meski produksi minyak terus menurun, BP Migas mencatat di sisi lain produksi gas nasional terus meningkat.

 

Pada 2013, untuk pertama kalinya produksi gas dijadikan target dalam asumsi makro oleh pemerintah. Indonesia dianugerahi cadangan gas 5 kali lebih besar dibandingkan cadangan minyak.

 

Sehingga, umur produksinya bisa mencapai 46—50 tahun dibandingkan minyak yang hanya sekitar 10—12 tahun.

 

Sebagai tabungan, BP Migas mencatat ada sekitar 17 lapangan baru yang akan dibuka dan menghasilkan produksi (selama periode 2012—2020) tidak kurang dari 1.200 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) atau tambahan setara 200.000 barel ekuivalen minyak per hari. (Bsi)

 

 

BERITA FINAL LIGA CHAMPIONS:

ARTIKEL LAINNYA:

ENGLISH NEWS:

+ JANGAN LEWATKAN5 Kanal TERPOPULER Bisnis.com

 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top