Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PERINGKAT FDI: RI dibayangi ancaman klasik

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 17 Mei 2012  |  20:00 WIB

 

 

JAKARTA:  Lembaga Pemeringkat Standard & Poor's Ratings Services menilai meningkatnya foreign direct investments ke Indonesia masih dibayangi ancaman klasik seperti birokrasi yang buruk, korupsi, ketidakpastian hukum, dan infrastruktur yang tidak efisien.   

Analis Kredit Standard & Poor's Agost Benard melalui laporan berjudul Indonesia's Foreign Direct Investments Surge Despite Some Less Alluring Factors menjelaskan sejumlah alasan dibalik meningkatnya foreign direct investment (FDI) di Tanah Air disebabkan oleh besarnya pasar domestik, meningkatnya pendapatan, upah yang kompetitif dalam sektor manufaktur, prospek pertumbuhan yang bagus, dan  diversifikasi sumber daya alam.

 

"Pasar domestik yang besar dan meningkatnya level pendapatan akan menjaga tingkat konsumsi tetap kuat," ujarnya, hari  ini,  Dia menjelaskan situasi yang berbeda di kawasan Eropa dan AS menjadikan Indonesia sebagai lokasi untuk pabrikan barang konsumsi.

 

"Meski, masih terdapat sejumlah faktor mengurangi daya tarik Indonesia sebagai tujuan FDI. Faktor itu adalah  birokrasi yang buruk, korupsi, ketidakpastian hukum, infrastruktur yang tidak efisien, dan pasar tenaga kerja yang tidak stabil."

 

Dia menambahkan selama enam tahun terakhir pemerintah telah mencoba meningkatkan perbaikan lingkungan melalui sejumlah inisiatif namun hasilnya bervariasi."

 

Menurutnya, perbaikan standar governance, mengurangi ketidakpastian, penanganan korupsi akan mendorong investasi langsung ke Tanah Air.   Badan Koorinasi Pasar Modal (BKPM) mencatat nilai  investasi yang masuk ke Indonesia pada tahun lalu mencapai Rp251,3 triliun, naik 20,5% dibandingkan dengan total investasi 2010 sebesar Rp208,5 triliun. 

 

Adapun investasi yang berasal dari penanaman modal asing mencapai Rp175,3 triliun, naik 18,45% dibandingkan dengan  realisasi PMA tahun sebelumnya senilai Rp148 triliun.  (msb)

 

BACA JUGA:

11:56 - Dolar AS Keok Di Pasar Asia

10:58 - HARGA EMAS Naik 1,93 Sen Dolar/Gram

06:53 - EDITORIAL BISNIS: Kasus Korupsi Jangan Tertutup Karena Musibah Sukhoi

02:25 - GAGALNYA LADY GAGA: Sold Out Dulu Baru Izin…?

01:55 - BLACK BOX SUKHOI: Ini Rute Perjalanan Panjang Kotak Hitam Setelah Ditemukan

01:46 - FINAL LIGA CHAMPIONS: Ujian Terberat DI MATTEO


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Munir Haikal

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top