ENERGI ALTERNATIFRI miliki potensi besar dengan listrik tenaga surya

 
Aprianto Cahyo Nugroho | 30 April 2012 19:33 WIB

 

JAKARTA : Indonesia berpeluang mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atau tenaga matahari lebih agresif, jika energi fosil tidak melulu disubsidi oleh pemerintah. 
 
Andreas Kleine, Sekretaris Kedutaan Besar Jerman untuk Indonesia, mengatakan Indonesia sebagai negara kepulauan, memiliki curahan sinar matahari yang melimpah. Artinya, potensi market untuk solar photovoltaic (PV) di Indonesia masih sangat besar. 
 
Di Jerman, lanjutnya, energi surya sudah lama berkembang seiring dengan feed in tariff untuk listrik dari energi surya yang sudah disediakan pemerintah. 
 
“Indonesia juga bisa menerapkannya, asal ada political will. Kalau ada political will, kita bisa mencapai target dengan mudah. Tapi di sisi lain, Indonesia masih ada sistem subsidi, keputusannya kini ada di Indonesia sendiri,” ujarnya dalam konferensi pers acara German-Indonesia Solar Energy Day  hari ini. 
 
Martin Krummeck, Deputy Managing Director Indonesian-German Chamber of Commerce and Industry (EKONID) menambahkan Indonesia sebenarnya memiliki cukup dana untuk mengembangkan energi baru terbarukan, termasuk energi surya. Sayangnya, dana itu dipakai kebanyakkan untuk subsidi energi fosil. 
 
“Indonesia membuang banyak uang untuk subsidi setiap tahunnya,” ujar Martin. 
 
Pada kesempatan yang sama, pemerintah dan pihak swasta dari Jerman menawarkan kerja sama di bidang PLTS di Indonesia. Jerman mengklaim negaranya lebih unggul dibandingkan negara lain yang juga bergerak di bidang serupa. 
 
Incaran investor
 
Rudolf Rauch, Principal Advisor GIZ Indonesia mengakui bahwa Indonesia adalah negara berkembang yang menjadi pusat perhatian investasi dunia saat ini. 
 
Pihaknya mengakui selain Jerman, banyak negara yang juga sudah lama mengembangkan PLTS seperti China, Jepang, dan Korea. Semua negara itu, terutama Jepang, sudah menunjukkan keseriusannya menggarap PLTS di Indonesia. 
 
“Kompetisi itu bagus, kami menyambut baik. Tapi kami bisa bilang kami leading di sini. Jerman sudah lebih dari 20 tahun berkecimpung di bidang ini,” ujarnya. 
 
Jan Michael Knaack, Project Manager BSW-Solar German Solar Industry Association mengatakan Indonesia memiliki curahan sinar matahari 50% lebih banyak dibandingkan kawasan Eropa. 
 
Di sisi lain, meski Jerman tidak memiliki banyak sinaran matahari dibandingkan Indonesia, namun Jerman telah memanfaatkan energi matahari hingga memiliki kapasitas terpasang saat ini mencapai 25 GigaWatt.
 
Jan mengatakan porsi pemanfaatan energi baru terbarukan di Jerman sudah mencapai 20% dan 4% di antaranya sudah berasal dari energi matahari. 
 
Di Indonesia, hingga 2011 tercatat total aplikasi energi surya baru mencapai 17 MWp. Jika dibandingkan dengan kapasitas terpasang pembangkit listrik di Indonesia sebesar 33,7 Gigawatt, maka kontribusi tenaga surya untuk pembangkit listrik baru sekitar 0,05%.
 
Berdasarkan Perpes No.5 Tahun 2006, pemerintah sudah mencanangkan target untuk memperbesar kontribusi sumber energi terbarukan dalam bauran energi sampai dengan 17% termasuk tenaga surya sebesar 0,2%—0,3% pada 2025. (sut)

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top