INFRASTRUKTUR: Lima jembatan gantung diresmikan Bupati Boyolali

SOLO: Lima jembatan gantung yang dibangun di Lereng Gunung Merapi, di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jateng senilai Rp38 miliar diresmikan Bupati Boyolali, Seno Samodro, Sabtu, 28 April 2012. Kelima jembatan gantung yang diresmikan tersebut,
News Editor
News Editor - Bisnis.com 28 April 2012  |  20:52 WIB

SOLO: Lima jembatan gantung yang dibangun di Lereng Gunung Merapi, di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jateng senilai Rp38 miliar diresmikan Bupati Boyolali, Seno Samodro, Sabtu, 28 April 2012. Kelima jembatan gantung yang diresmikan tersebut, diantaranya jembatan Sepi, jembatan Ladon, jembatan Kajor, jembatan jembatan Windu, dan jembatan Takeran, dan selanjutnya akan berfungsi sebagai sarana transportasi maupun jalur evakuasi warga yang selama ini terhambat akibat terjangan banjir lahar dingin, pasca erupsi Merapi beberapa waktu lalu. Bupati Boyolali Seno Samodro mengatakan dengan telah selesainya pembangunan sejumlah infrastruktur ini diharapkan menjadi awal kebangkitan kembali Boyolali, khususnya Kecamaan Selo, setelah terkena bencana Erupsi merapi beberapa waktu silam. “Saya harap masyarakat dapat turut membantu merawat jembatan gantung ini, karena secara teknis, usianya hanya bertahan sekitar lima tahunan, serta hanya mampu dilalui maksimal dengan beban tiga ton saja,” tuturnya, saat meresmikan salah satu jembatan gantung di Dusun Sepi Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, kemarin. Dia mengatakan dengan selesainya jembatan pengubung antara desa ini, diharapkan roda perekonomian dan aktifitas lainnya dapat mulai berjalan normal kembali seperti sebelum terjadinya bencana erupsi Merapi, mengingat Kecamatan Selo merupakan penghasil sayuran yang bagi sejumlah daerah sekitar Boyolali. “Hasil tanaman  oke, infrastruktur penunjang mobilitas oke, sehingga taraf hidup masyarakat tiga desa sebanyak 6.000-7.000 orang yang memanfaatkan jembatan gantung ini semakin meningkat,” ujarnya. Menurutnya, selain meminta bantuan warga masyarakat untuk turut membantu perawatan jembatan, pemerintah daerah setempat juga mengalokasikan dana perawatan melalui program ‘Unit Reaksi Cepat’ sebesar Rp1 miliar- Rp2 miliar setahun. Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Boyolali Juwaris, selaku ketua pelaksana proyek mengatakan sejumlah pengerjaan infrasruktur yang dilakukan dalam rangka masa tanggap darurat Merapi tersebut, diantaranya lima jembatan gantung, dua jembatan permanen, dan tiga jalur evakuasi, dengan total anggaran sebesar Rp38 miliar. Menurutnya dari lima jembatan gantung tersebut, yang benar-benar selesai dan bisa dilewati saat ini baru ada tiga, yakni jembatan Sepi, menghubungkan Desa Sepi dengan jalan raya, lalu jembatan Ladon, yang menghubungkan Dukuh Sepi dengan Desa Klakah, dan jembatan Kajor, yakni menghubungkan Desa Kajor dengan jalan raya.. “Dua jembatan gantung lainnya, yakni jembatan Windu yang menghubungkan Desa Klakah Boyolali dengan Windu Sawangan, Magelang, serta jembatan Takeran yang menghubungkan Dukuh Takeran, Desa Tlogolele dengan Belang, sedang tahap penyelesaian, akibat terkendala cuaca dan medan yang agak sulit untuk dilalui alat berat,” paparnya. Dia mengatakan sejumlah jembatan gantung yang masih tahap penyelesaian itu diharapkan cepat selesai juga, agar segera dapat dimanfaatkan warga yang selama ini terisolasi saat banjir lahar dingin melanda, sehingga mobilitasnya bisa lancar kembali   Menurutnya jembatan gantung yang terbuat dari besi baja, dengan panjang masing-masing hembatan bervariasi, yakni mulai 72 meter hingga 120 meter dan lebar 2,8 meter tersebut hanya mampu menahan beban maksimal tiga ton atau sebanyak 80 orang manusia sekali jalan. Dia menambahkan selain peresmian jembatan gantung, untuk mengamankan terjadinya erosi, juga dilakukan penghijauan di bibir sungai di lima jembatan gantung dengan menanam sebanyak 38.000 bibit pohon bantuan dari Pertamina. Sementara itu, Koordinator Darurat Merapi Kementerian Pekerjaan Umum Hamdi Rachman mengatakan pembangunan jembatan gantung yang berada di Boyolali itu merupakan bagian dari 25 jembatan yang dikerjakan pemerintah pasca erupsi merapi, yakni 13 jembatan gantung dan sisanya jembatan permanen, yang terkena dampak bencana Merapi, yakni Boyolali, Klaten, Magelang dan Sleman, dengan anggaran sekitar Rp262 miliar. Hamdi menegaskan, meskipun secara teori jembatan gantung tersebut hanya bisa bertahan lima tahun, namun itu semua juga tergantung perawatannya.  “Sebaiknya diraat secara rutin, minimal enam bulan sekali diperiksa talinya jangan sampai kendur, sehingga peristiwa seperti jembatan Kutai Kartanegara tidak terjadi lagi,” ujarnya. Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jhony Sumbung mengatakan tahapan berikutnya setelah penyelesaian pengerjaan sejumlah jembatan gantung tersebut, segera dilanjutkan dengan rehabilitasi dan rekonstruksi sejumlah jembatan permanent dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp32 miliar, yang diharapkan bisa selesai tahun ini juga. “Karena sifatnya darurat, jembatan gantung yang secara teknis hanya mampu bertahan sekitar empat hingga lima tahun ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh warga masyarakat untuk beraktifitas kembali, seperti sebelum tejadinya bencana Merapi,” pungkasnya. (api)  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Puput Ady Sukarno & Endot Brilliantono

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top