PEGUNUNGAN TENGGER: Agribisnis kambing perah terus berkembang

PROBILINGGO: Sejumlah kalangan di wilayah pegunungan Tengger (Gunung Bromo-Gunung Semeru) yang meliputi empat daerah mulai serius melakukan pengembangan usaha sektor peternakan kambing perah meski saat ini industri pengolahan susu kambing di Jawa Timur
News Editor | 24 April 2012 11:11 WIB

PROBILINGGO: Sejumlah kalangan di wilayah pegunungan Tengger (Gunung Bromo-Gunung Semeru) yang meliputi empat daerah mulai serius melakukan pengembangan usaha sektor peternakan kambing perah meski saat ini industri pengolahan susu kambing di Jawa Timur masih belum tersedia.Ketua Umum DPD Asosiasi Peternak Kambing Perah Indonesia (Aspekpin) Jatim, Bambang Heri Wahyudi menyatakan potensi usaha peternakan kambing perah guna diambil susunya relatif besar secara nasional baik sisi jumlah ternak dan peternaknya maupun dari sisi jenis kualitas kambing yang akan diperah.Geliat peternakan kambing perah di Indonesia khususnya Jatim beberapa tahun belakangan mulai marak dikembangkan. Karena itu Aspekpin secara nasional telah didirikan pada September 2011 meski baru delapan provinsi yakni semua provinsi di Jawa plus Bali dan Lampung."Kondisi ini ditunjang jumlah kambing ternak jenis perah mulai banyak dibudidayakan di wilayah itu," kata Bambang di sentra peternakan kambing perah di  Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Selasa April 2012.Bambang menyatakan saat ini kambing masih lebih banyak diternakkan untuk diambil komoditas daging serta kulitnya, padahal hewan ternak itu sebenarnya bisa dikembangkan pada sektor perah.Faktanya di Indonesia telah lama ada jenis kambing yang memiliki kualitas susu untuk diperah dengan volume besar. Jenis kambing biasa sebenarnya bisa juga diperah namun volume susunya terbatas 1-2 liter per hari, bila jenis tertentu seperti etawa atau PE [peranakan etawa], kali gesing serta Saanen begitupula anglo-nubian bisa menghasilkan susu rata-rata 4-6 liter per hari.Kondisi itu, kata Bambang, sebenarnya merupakan potensi tersendiri mengingat kebutuhan susu sebagai salah satu asupan bergizi tinggi bagi masyarakat relatif masih kurang meski saat ini kebutuhan susu lebih didominasi pasokan dari hasil kegiatan usaha memerah sapi."Seharusnya kegiatan memerah kambing untuk memenuhi kebutuhan susu nasional maupun Jatim yang masih kurang banyak, karena dari kebutuhan susu di Jatim 1,2 juta liter per hari baru bisa dipenuhi kisaran 700.000-800.000 liter. Artinya ruang usaha itu sangat besar bila di-komparasikan dengan hasil perah susu kambing," ujarnya. (ra)

 

 

>BACA JUGA

-Panorama transportasi berencana terbitkan obligasi

Sumber : Yuristiarso Hidayat

Tag :
Editor : Basilius Triharyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top