GAS UNTUK LISTRIK: Vico pasok CBM ke PLN

JAKARTA : Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dari gas metana batu bara atau CBM (coal bed methane) hari ini ditandatangani untuk pertama kalinya antara PT Virginia Indonesia Company (Vico) dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). 
Aprianto Cahyo Nugroho | 18 April 2012 21:44 WIB

JAKARTA : Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dari gas metana batu bara atau CBM (coal bed methane) hari ini ditandatangani untuk pertama kalinya antara PT Virginia Indonesia Company (Vico) dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). 

 
PJBG tersebut mencakup pasokan gas CBM dari Lapangan Sanga-Sanga, Kalimantan Timur sebesar 0,5 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) yang bisa menghasilkan listrik sebesar 2 MW. Adapun harga yang disepakati adalah sebesar US$7,5 per juta British thermal unit (MMBTU). 
 
Penandatanganan itu disaksikan langsung oleh Menteri ESDM Jero Wacik dan Kepala BP Migas R. Priyono. Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo mengatakan PJBG ini adalah untuk pertama kalinya dilakukan di Indonesia. 
 
“Jual beli gas CBM ini untuk pertama kali, ini akan memperkuat ketahanan pasokan gas nasional. Harga yang disepakati bersama US$7,5 per MMBTU dan harga segitu cukup bagus,” ujarnya di sela-sela acara IndoCBM 2012, hari ini. 
 
Harga gas itu berlaku sejak pertama mengalir hingga persetujuan rencana pengembangan (plan of development/PoD) pertama Lapangan Sanga-Sanga atau sampai 31 Desember 2014, mana yang terjadi lebih dahulu.
 
Dengan PJBG hari ini, maka untuk pertama kalinya PLN akan memproduksi listrik dari gas CBM. Kepala Divisi BBM dan Gas PLN Suryadi Mardjoeki secara terpisah mengatakan selanjutnya gas CBM akan dipasok untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kaltim berkapasitas 2 MW. 
 
“Pembangkitnya masih dalam proses pembangunan, lokasinya dekat dengan sumber CBM yang saat ini masih dewatering. Pembangkitnya beroperasi kira-kira Oktober tahun ini. Listrik 2 MW bisa untuk melistriki sekitar 4.000 rumah tangga,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis, hari ini. 
 
Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan CBM termasuk sumber energi baru yang harus digarap secara lebih serius. Menurutnya, untuk mengembangkan CBM tidak perlu harus oleh perusahaan-perusahaan migas berskala besar, tapi sudah bisa dikembangkan oleh perusahaan berskala menengah dari Indonesia. 
 
“CBM ini bayi baru, kita harus serius. Kelihatannya tidak harus ExxonMobil, ConocoPhillips, atau yang besar-besar lainnya, tapi cukup [dikelola oleh] orang-orang Indonesia yang sudah mengerti di sela-sela batu bara itu ada gas. Mari kita garap CBM dengan serius,” ujarnya. 
 
Berdasarkan road map Kementerian ESDM, produksi CBM di Indonesia ditargetkan mencapai 500 MMSCFD pada 2015, meningkat menjadi 1.000 MMSCFD pada 2020, dan 1.500 MMSCFD pada 2025. 
 
Wakil Kepala BP Migas Hardiono mengatakan jumlah wilayah kerja migas saat ini ada 287 WK, terdiri dari 73 WK eksploitasi dan 214 WK eksplorasi. Dari total 214 WK eksplorasi itu, sebanyak 42 WK atau sekitar 20%-nya adalah WK CBM. Ditambah dengan 8 kontrak kerja sama CBM yang baru saja ditandatangani hari ini, total WK CBM menjadi 50 WK. 
 
“Pada 2008 saat kontrak CBM pertama kali ditandatangani jumlahnya ada 7, lalu pada 2011 jumlahnya jadi 42. Ini menunjukkan respon yang sangat antusias dari para investor CBM di Indonesia,” ujar Hardiono. 
 
Hardiono mengatakan untuk mencapai target produksi CBM sebesar 500 MMSCFD pada 2015, dibutuhkan 2.000 sumur produksi yang artinya 400 sumur baru harus dibor setiap tahunnya. Tentunya hal ini tidak mudah direalisasikan karena tantangan di lapangan sangat besar. Pengembangan CBM, lanjutnya, butuh dukungan kerja sama dan koordinasi yang erat antara pemerintah, investor, kondisi pasar, dan infrastruktur yang mutlak diperlukan. 
 
CBM merupakan salah satu migas nonkonvensional yang berada di sela-sela rongga batu bara. Potensi CBM di Indonesia diketahui sebesar 453,3 triliun kaki kubik (TCF) yang sebagian besar berada di Sumatra dan Kalimantan.  (sut)
 

 

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top