INFRASTRUKTUR LISTRIK perlu dukungan investasi US$178 miliar

 
Gajah Kusumo | 11 April 2012 20:42 WIB

 

JAKARTA: Dewan Energi Nasional mencatat kebutuhan investasi penyediaan listrik melalui kapasitas pembangkit mencapai US$178 miliar guna memenuhi konsumsi listrik per kapita yang diperkirakan sebesar 3.524 kWh pada 2030.
 
Anggota Dewan Energi Nasional Herman Darnel Ibrahim mengungkapkan hingga kini konsumsi listrik per kapita di Indonesia relatif masih rendah sekitar 622 kWh, sementara kapasitas terpasang pembangkit hanya mencapai 32 Gigawatt, jauh di bawah negara-negara lain seperti India yang kini sudah sebesar 170 GW . 
 
Herman menilai konsumsi listrik dan energi di Indonesia akan terus membumbung tinggi. Pertumbuhan konsumsi listrik pada 2015 saja diproyeksikan akan meningkat hingga 951 kWh, sehingga membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 55,6 GW.
 
Dengan begitu, serunya, kehadiran investor swasta dan asing sangat dibutuhkan guna merealisasikan ketersebaran infrastruktur listrik di penjuru tanah air. Perluasan akses tenaga listrik ditargetkan mampu meningkatkan rasio elektrifikasi nasional hingga 85% pada 2015.
 
“Ketimpangan ketersediaan listrik di daerah-daerah masih sangat besar. Konsumsi di Jawa sudah lebih dari 80% dan Sumatera sekitar 11%. Tapi, disparitas elektrifikasi dan konsumsi listrik di Indonesia bagian timur masih menyedihkan karena baru sekitar 3%,” ungkapnya pada peluncuran turbin uap GE Triveni di Jakarta hari ini.
 
Menurut Herman, DEN telah membidani kebijakan bauran energi yang akan menjaga keseimbangan penyediaan listrik nasional dengan perencanaan ekonomi biaya energi yang rasional. Sumber energi batubara dan gas akan menjadi tulang punggung pembangkit listrik di masa depan. Bahkan, peranan batubara akan dioptimalkan hingga 40%—50% dalam menunjang produksi listrik.
 
Selain itu, pengembangan listrik dari sumber energi terbarukan juga akan disiapkan dengan skala yang lebih besar dengan tetap mempertahankan keamanan pasokan dan level biaya produksi. Sumber energi terbarukan yang akan diprioritaskan yakni panas bumi dengan potensi yang mencapai 28 28,1 Giga Watt Electrical, atau setara dengan 12 miliar barel minyak bumi untuk masa pengoperasian 30 tahun.
 
“Sisanya akan dipenuhi melalui pembangkit base load yang murah dan aman. Pilihannya adalah batubara sehingga pengembangan PLTU mulut tambang skala besar akan dilakukan dibangun di Sumatera dan Kalimantan,” jelasnya.
 
Kebutuhan peningkatan kapasitas pembangkit listrik di Indonesia telah menarik minat sejumlah investor. Salah satunya yakni GE Oil and Gas yang menggandeng Triveni Turbines Limited guna mendesain, memproduksi, serta memasarkan fasilitas turbin uap berkapasitas 30—100 megawatt bagi kalangan industri di Indonesia.  (sut) 

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top