ZONA WAKTU TUNGGAL: Justru dianggap malah hambat produktivitas

 
Erlan Imran | 06 April 2012 18:56 WIB

 

JAKARTA: Dewan Perwakilan Rakyat menyampaikan penerapan zona waktu tunggal di Indonesia akan menghambat produktivitas masyarakat yang selanjutnya memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

 

Anggota Komisi VII DPR RI Satya Widya Yudha mengungkapkan perubahan waktu yang tidak mengikuti kondisi alamiah akan mengganggu rutinitas pekerja secara otomatis. Dalam jangka panjang, lanjut dia,  dapat pula menghambat komponen perekonomian.

 

“Wilayah timur yang akan terganggu, misal biasanya pukul 06.00 sudah beraktifitas sekarang jadi pukul 05.00, malamnya tidak pengaruh,” ujar Satya kepada Bisnis, Jumat 6 April 2012.

 

Dia mengaku tidak sependapat dengan wacana perubahan waktu bagi wilayah Indonesia barat dan timur. Menurut Satya, pemerintah harus menyadari bahwa secara geografis Indonesia memiliki wilayah yang luas dan cirri yang beragam.

 

“Saya tidak begitu sependapat karena negara kita benar-benar luas, jadi harus dirasakan dan tak perlu ada keseragaman,” katanya.

 

EFISIENSI ENERGI

 

Anggota Badan Anggaran ini juga membantah persamaan zona waktu akan mendorong penghematan listrik secara signifikan. Jika melakukan penghitungan teknis, sambung dia, kurun waktu menyalakan dan mematikan listrik akan sama yakni berdasarkan ketentuan waktu. 

 

“Misal mematikan waktu satu jam lebih pagi, tetapi nanti malamnya juga akan menyalakan lampu lebih dulu dari biasanya. Jadi kalau dibilang menghemat sama saja,” ujarnya.

 

Luki Eko Wuryanto, Deputi bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Kementerian Koordinasi Perekonomian, menuturkan penerapan zona waktu tunggal dapat mendorong efisiensi energi listrik. Menurut dia, proses mematikan listrik dalam waktu bersamaan akan menciptakan penghematan yang sangat signifikan.

 

“Selain itu, zona waktu juga membuat transaksi bisnis menjadi seragam dan memudahkan pergeakan ekonomi,” ujar Luki.

 

Dari sisi perbankan, lanjut dia, transaksi keuangan dalam waktu yang sama akan meningkatkan fleksibilitas pelaku bisnis dalam menjalankan usahanya.

 

“Lagipula ini bisa jadi revolusi kebudayaan, karena ada perubahan waktu yang punya implikasi pada kehidupan sehari-hari. Dampak positifnya banyak sekali,” ungkapnya.

 

Luki mengaku ide unifikasi zona waktu telah mendapat dukungan dari hampir seluruh kementerian. Saat ini, pihaknya masih mengkaji dan mengkalibrasi sejumlah dampak yang akan ditimbulkan dari ide tersebut.(ea)

BACA JUGA:

TINGKAT INFLASI: Harga BBM tak naik, inflasi tetap saja mengkhawatirkan

KASUS KORUPSI: Wuih…, Kejagung intip kasus CHEVRON PACIFIC

Tag :
Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top