KINERJA EKSPOR: Pengusaha DKI khawatirkan situasi politik dalam negeri

 
Sekretariat Redaksi | 04 April 2012 18:44 WIB

 

JAKARTA: Kalangan dunia usaha khawatir kinerja ekspor nonmigas melalui Jakarta yang meningkat tipis 2,38% pada Februari 2012 menjadi US$4 miliar, termasuk produk lokal Ibu Kota naik 0,41% menjadi US$989 juta akan kembali turun akibat dampak situasi politik dalam negeri.

 

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta Yukki N. Hanafi mengatakan kinerja ekspor nonmigas tersebut seharusnya bisa lebih baik lagi mengingat tingkat pertumbuhan ekonomi nasional dan Ibu Kota yang semakin positif dan kinerja industri yang lebih baik.

 

“Jika melihat target pertumbuhan ekonomi dan kinerja industri yang semakin baik, seharusnya penaikan nilai ekspor nonmigas melalui DKI sebesar 2,38%, termasuk produk lokal Jakarta 0,41% bisa lebih tinggi dan ke depan tidak boleh turun lagi,” katanya di Jakarta, Rabu 4 April 2012.

 

Menurutnya, jika mengacu pada target pertumbuhan ekonomi nasional dan Jakarta yang positif, serta kinerja industri yang semakin baik, termasuk telah beroperasinya sejumlah pabrik baru di Tangerang dan Cikarang, maka kenaikan nilai ekspor melalui Jakarta bisa mencapai 5%-10%.

 

Dia mengemukakan hal itu menanggapi laporan Badan Pusat Statistik DKI Jakarta yang mengungkapkan nilai ekspor nonmigas melalui Ibu Kota pada Februari 2012 mencapai US$4 miliar atau meningkat 2,38% dari bulan sebelumnya US$3,9 miliar.

 

Selain itu, penaikan nilai ekspsor produk-produk DKI Jakarta yang meningkat tipis 0,41% pada Februari 2012 menjadi US$989,15 juta dibandingkan dengan bulan sebelumnya US$985,13 juta dan nilai tersebut berkontribusi sekitar 24,71% terhadap total nilai ekspor melalui Jakarta. 

 

Yukki mengatakan mengatakan rendahanya peningkatan nilai ekspor nonmigas melalui Jakarta bukan karena faktor pasar, tetapi dipicu oleh situasi politik dalam negeri dan kebijakan pemerintah yang menimbukan ketidak pastian, seperti rencana penaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

 

Kalangan dunia usaha mengharapkan adanya kepastian atas semua kebijakan pemerintah, termasuk naik atau tidaknya harga BBM bersubsidi, sehingga mereka dapat membuat perencanaan keuangan dan bisnisnya secara lebih baik.

 

“Realitanya sekarang harga bahan baku dan barang konsumsi naik menjelang rencana penaikan harga BBM pada 1 April 2012 dan ternyata tidak jadi naik. Namun, harga barang cederung terus naik, sehingga kami khawatir ketika haga BBM jadi naik, maka harga barang naik lagi,” ujarnya.

 

Sementara itu Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan pemerintah pusat dan Pemprov DKI Jakarta berusaha mengendalikan harga bahan baku dan barang konsumsi, terutama yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat.

 

“Pengendalian harga di antaranya melalui operasi pasar itu sangat mendesak segera dilaksanakan karena kenaikan harga barang kebutuhan pokok telah merepotkan warga dan kenaikan bahan baku menyulitkan kalangan dunia usaha dalam menjalankan bisnis mereka,” ujarnya. (ea)

 

Tag :
Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top