Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wah! 74 dari 78 proyek rusun mangkrak

BALIKPAPAN: Para akademisi dan prosefional mengkritisi kebijakan pemerintah dalam merealisasikan pembangunan rumah susun karena pembangunan fasilitas penunjang perumahan cenderung diabaikan ketika rumah tersebut selesai dibangun.Dosen Arsitektur Universitas
News Editor
News Editor - Bisnis.com 24 November 2011  |  19:05 WIB

BALIKPAPAN: Para akademisi dan prosefional mengkritisi kebijakan pemerintah dalam merealisasikan pembangunan rumah susun karena pembangunan fasilitas penunjang perumahan cenderung diabaikan ketika rumah tersebut selesai dibangun.Dosen Arsitektur Universitas Diponegoro Eko Budihardjo mengatakan dari 78 rusun yang terbangun 74 di antaranya mangkrak karena fasilitas penunjang seperti listrik dan air tidak ada. “Akibatnya para penghuni rusun tersebut enggan untuk menempati rumahnya,” ujarnya hari ini.Dia mengatakan pemerintah banyak melakukan pembangunan dengan hanya mengacu pada target pembangunan. Sementara aspek dasar perumahan seperti fungsionalitas bangunan tidak diindahkan. Akibatnya ketika bangunan selesai didirikan, penghuni menjadi enggan dan tidak kerasan untuk menempatinya.Eko mengatakan sebaiknya pemerintah berkonsultasi dengan para akademisi maupun profesional dalam menetapkan desain sebuah rusun. Selama ini, tambah Eko, pemerintah terkesan mengenyampingkan para akademisi dan profesional dalam mengambil keputusan tersebut.Dia juga mengatakan masyarakat wajib mengawasi pembangunan yang diprogramkan oleh pemerintah sehingga bisa tepat sasaran. Eko mengatakan pengawasan tersebut bisa dilakukan melalui media maupun sarana lain yang bisa memberi kontrol langsung terhadap pemerintah.Sementara itu, Ketua Umum IAI Endy Subijono mengatakan pembangunan rusun sebaiknya bisa memperhatikan unsur budaya bagi masyarakat. “Karena budaya dalam rusun berbeda dalam rumah tapak yang selama ini banyak dibangun oleh masyarakat,” tuturnya.Dia mengatakan masyarakat perlu perubahan secara bertahap agar pembangunan rusun bisa berjalan sesuai dengan peruntukannya. Jangan sampai, tegas Endy, pembangunan tersebut hanya menjadi sekedar perealisasian target pemerintah yang tidak berfungsi dengan baik bagi masyarakat.Endy mengatakan pemerintah sebaiknya harus melakukan perubahan pola piker secara bertahap seperti dengan pembangunan rusun 4 lantai kemudian meningkat menjadi high rise building. Apabila langsung diubah secara massif dikhawatirkan akan terjadi culture shock yang mengakibatkan timbulnya rasa enggan menempati rumah tersebut.Peluang baruSementara itu, tambah Endy, Balikpapan sebagai kota yang memiliki wilayah dengan kontur bukit yang banyak bisa memanfaatkan peluang tersebut untuk menjaring investor masuk ke dalam kota. “Bisa dimanfaatkan perbukitan tersebut bahkan investor pun akan terjaring masuk apabila bisa dikelola dengan baik,” tuturnya.Endy mengatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan bisa memanfaatkan kontur bukit untuk membangun perumahan. Terlebih dengan mengandalkan pemandangan laut yang apik bisa menarik kunjungan wisatawan untuk masuk ke Balikpapan.Untuk itu, dia berpendapat sebaiknya Pemkot Balikpapan bisa melihat peluang tersebut tetapi dengan tetap menjaga lingkungan yang ada. Nantinya, dalam melakukan perencanaan dan pengembangan Pemkot Balikpapan bisa berkonsultasi dengan akademisi dan profesional agar bisa tertata dengan baik.“Tinggal bagaimana tanggapannya. Apabila bersedia untuk mengail peluang tersebut, akan bermanfaat bagi perkembangan kota ke depan,” tutupnya. (22/Bsi)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Rachmad Subiyanto

Editor : Puput Jumantirawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top